Musuh Yang Memikat





Selasa sore itu, di kendaraan SUV DLH yang parkir di SPBU, Andi tanya kenapa tidak langsung segel saja. Nyimas jawab sesuai prosedur. Andi bilang dia khawatir Nyimas capek mondar-mandir. Rina masuk dari toilet, perjalanan dilanjutkan.


Di gerbang GML, Amir, Ucok, dan Tono bahas ancaman segel. Mobil manajer tiba. Harahap muncul, suruh Ucok dan Tono menghadap Soleh—manajer 47 tahun bermata tegas dan kacamata tebal.

Ruang manajer tegang. Soleh gusar. “Kalian cuma debat? Harusnya mediasi!”

Ucok tertunduk. “Maaf, Pak. Saya baru, panik.”

Harahap bela ponakannya. Soleh suruh Ucok dan Tono keluar dulu.


Di ALUN-ALUN GELUMBANG berdiri asri kantor DLH dengan slogan hijau. Di ruang meeting, Rina dan Andi berkemas. Rina goda Andi soal perasaan ke Nyimas. Andi akui suka, tapi ragu nyatakan. Rina janji merahasiakan dari Nyimas, biar Andi nyatakan sendiri perasaannya.

Di ruangan kecil Nyimas, Rina masuk. “Masih melamun mikirin pemuda baik hati di minimarket itu?”

Nyimas tersipu. “Dak tau kenapo, Rin. Pas tadi ketemu lagi di GML... Aku meraso ado tarikan aneh.”

Rina tertawa. “Ay! Jatuh cinta samo musuh?”


Kembali ke GML, Harahap lapor pelan ke Soleh: “IPAL bocor, Pak. Salah kita.”

Soleh marah. “Ini bisa sanksi berat!”


Malam di mess, Tono cerita ke Ucok bahwa Burhan yakin IPAL bocor. “Besok kamu dipanggil Pak Soleh.”

-----


Rabu Pagi, di pantry, Harahap marahi Ucok karena debat kemarin. Lalu di ruang Soleh, Ucok mendapat tugas baru: “Ucok, antar map ini ke Bu Nyimas di DLH. Dokumen komitmen perbaikan.”

Ucok bingung, "Bu Nyimas siapa, Pak?"

Soleh, "Nanti kamu akan tahu sendiri. Cepat berangkat sana, pakai motor kantor!"


Ucok naik motor kantor ke kota Gelumbang, pikiran penuh tanya.

Singkat kata di kantor DLH, Rina bisik ke Nyimas ada tamu dari GML. 

Nyimas, "Ado perlu apo?"

Rina kode ke Nyimas, "Udah, terimo bae dulu."

Nyimas, "Yo, sudah. Suruh masuk!"

CATATAN: Dialog berusaha untuk natural, sebab setting cerita ada di Sumatera Selatan. Tapi untuk beberapa scene formal, tetap memakai bahasa Indonesia.

Nyimas kaget lihat Ucok masuk ruangannya. Waktu serasa berhenti sesaat.

“Ada yang bisa dibantu, Pak?”

Ucok serahkan map. Saat tangan bersentuhan, keduanya kaget—pandang lama.

Nyimas baca sekilas. “Cuma janji?”

“Kami serius, Bu.”

"Kenapa Bapak sendiri yang datang? Bukan Humas senior?" tanya Nyimas. 

Ucok, "Mungkin hukuman,  karena kemarin saya kurang sopan." 

Nyimas tersenyum tipis—Ucok jantungan. 

Di luar, Rina intip sambil senyum. 

Kembali ke ruangan, Nyimas tunjukkan bukti foto dan data lab.

Ucok ragu, tapi akui, “Saya baru di sini, butuh kerja. Tapi kalau salah, saya nggak mau bohong.”

Nyimas luluh sedikit. “Pak Ucok, ya? Saya Nyimas. Bapak bukan musuh pribadi saya.”

Pertama kali kenalan nama. Chemistry terasa lagi saat salaman.

Keluar ruangan, Ucok ketemu Rina yang senyam-senyum. Ucok kikuk, jalan salah arah. Nyimas yang muncul pun memanggil, "Pak Ucok!"—arahkan jalan keluar. Rina tertawa. Nyimas pandangi kepergian Ucok, magnet itu berasa banget.

Namun tanpa sepengetahuan Rina dan Nyimas, Andi mengintip sikap Nyimas ke Ucok. Andi cemburu.


Pulang, Ucok mikirin senyum Nyimas. Di DLH, Rina yakinkan Andi bahwa status Nyimas masih jomblo.


Sore di GML, Ucok lapor ke Soleh, yang lantas beri instruksi ke bagian "utility & boiler" agar cepat bereskan masalah IPAL.

-----


Keesokan paginya, tepatnya hari Kamis, suasana di area IPAL sudah panik. Harahap berdiri di pinggir kolam pengolahan dengan tangan akimbo, mengawasi karyawan utility & boiler yang sibuk cek pipa-pipa. Ucok dan Tono ikut turun tangan, celana digulung, sepatu basah lumpur.

“Sudah ketemu belum bocornya?!” bentak Harahap pada mandor.

“Belum, Pak! Pipa bawah tanah ini banyak cabangnya!”

Tono bisik ke Ucok, “Gawat nih, Cok. Kalau nggak ketemu sebelum DLH datang, habis kita.”

Ucok mengangguk, tangannya meraba pipa sambil mata nyari petunjuk. Tiba-tiba ia lihat genangan minyak mengkilat di parit kecil. “Tulang! Ini! Ada kebocoran parah di sini—lihat lapisan minyaknya!”

Harahap buru-buru mendekat. “Ya Tuhan... ini besar. Cepat tutup sementara!”

Tepat saat itu, suara klakson mobil SUV terdengar dari gerbang. Amir berlari masuk area IPAL, napas ngos-ngosan. “Pak Harahap! Tim DLH sudah masuk gerbang, langsung ke sini!”

Semua panik. Harahap mengusap keringat. “Sial... belum beres.”

Tim DLH tiba: Nyimas, Andi, Rina. Nyimas langsung ke lokasi bocor yang baru ditemukan Ucok, matanya menyipit.

Nyimas: “Ini... sengaja ditutup-tutupi ya, Pak?”

Harahap buru-buru membela, “Bukan, Bu! Kami baru saja menemukan tadi pagi. Kami lagi proses perbaikan.”

Andi mendekat, ambil sampel air dengan botol lab. “Kadar oil & grease pasti masih tinggi. Ini pelanggaran berat.”

Ucok, yang berdiri di samping Harahap, tak tahan: “Bu Nyimas, kami benar-benar lagi usaha perbaiki.”

Nyimas menoleh ke Ucok—pandang mereka bertemu lagi, ada getar sesaat. Tapi cepat ia kuasai diri.

Nyimas: “Bagus kalau sudah usaha diperbaiki. Tapi ini sudah terlambat. Dampak ke sungai sudah parah—ikan mati, warga susah air bersih.”

Tono coba mediasi: “Bu, kasih kami waktu sedikit lagi. Pabrik ini sumber nafkah ratusan orang.”

Rina berbisik pelan ke Nyimas: “Nyimas, kasih kelonggaran dikit lah... lihat muka mereka.”

Soleh muncul buru-buru dari kantor, kacamata agak miring karena lari. “Bu Nyimas beserta kawan-kawan... mari kita bicara di ruang meeting. Jangan di sini panas-panasan.”

-----


Kantor GML. Soleh dan Harahap masuk kantor duluan. Di belakang mereka ada tim DLH, Nyimas, Andi, Rina. Sambil berjalan Nyimas diam saja, pikirannya campur aduk antara bukti pelanggaran dan wajah Ucok yang penuh harap. Yang terakhir masuk ke kantor adalah Ucok dan Tono. Sementara itu beberapa karyawan lain menunggu di luar. 

Di ruang meeting Kantor GML. Semua duduk: Soleh dan Harahap di satu sisi, Nyimas, Andi, Rina di sisi lain. Ucok dan Tono berdiri di pojok.

Soleh buka mulut duluan: “Bu Nyimas, kami akui ada kelalaian. Tapi perusahaan ini lagi susah—induk kami ekuitas negatif, ekspansi hilirisasi lagi jalan. Kalau disegel sekarang, ratusan karyawan nganggur. Kasih kami kelonggaran, Bu.”

Andi tegas: “Pak, UU Lingkungan Hidup jelas. Pelanggaran limbah B3 bisa pidana.”

Nyimas angkat tangan hentikan Andi, lalu tatap Soleh: “Kami bukan mau hancurkan perusahaan, Pak. Tapi warga sudah menderita. Air sungai hitam, anak-anak sakit kulit.”

Ucok tak tahan, maju selangkah, “Bu Nyimas... saya baru di sini, tapi saya lihat sendiri karyawan di luar cemas. Mereka punya keluarga. Saya juga... jauh-jauh dari Medan demi kerja ini.”

Harahap melirik Ucok, agak kaget ponakannya berani maju.

Nyimas menoleh ke Ucok—ada kilat luluh di matanya sesaat, tapi cepat ia sembunyikan.

Nyimas: “Saya paham, Pak Ucok. Tapi idealisme bukan cuma kata. Kalau perusahaan besar seenaknya, gimana nasib desa kecil?”

Harahap coba lembut: “Bu, kami janji perbaiki dalam waktu dekat. Monitoring ketat dari DLH juga boleh.”

Soleh tambah: “Kami siap bayar denda dan kompensasi warga. Tapi jangan segel dulu.”

Nyimas diam sejenak, tatap Ucok lagi—notice Ucok tertunduk, tapi matanya penuh harap.

Andi mengerutkan kening—nggak suka Nyimas agak luluh. Rina senyum kecil.


Di luar kantor GML, karyawan yang ngumpul menunggu keputusan dari dalam gedung. Mereka cemas kehilangan pekerjaan, suara mesin pabrik yang biasa bergaung kini terasa seperti detik jam bom.

BERSAMBUNG...

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 2: MUSUH YANG MEMIKAT

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar