Pesona Yang Menggoda




Senin sore, di depan gerbang utama PT Gelumbang Minyak Lestari (GML). Situasi sudah di ambang kekacauan. Ratusan warga Desa Suban Baru—dipimpin Burhan dan Nurdin—mendorong-dorong pagar besi yang terkunci rapat. Klakson motor dan teriakan “Segel sekarang!” bergema. Beberapa pemuda sudah pegang kayu dan tali, siap merobohkan kalau perlu.

Dari balik pagar, Soleh, Harahap, Ucok, Tono, dan Amir menahan dengan tangan kosong. Beberapa karyawan lain ikut membantu.

Soleh berteriak, “Sabar dulu, Pak Burhan! Kita bisa bicara!” Tapi suaranya tenggelam dalam keriuhan.

SUV DLH berhenti di depan massa. Andi turun duluan, diikuti Rina. Nyimas keluar terakhir, wajah tegang. Matanya langsung mencari Ucok di balik pagar. Pandangan mereka bertemu sebentar—Ucok tertunduk khawatir, Nyimas menggigit bibir bawahnya.

Andi mendekat ke Nyimas. “Nyimas, pasang segel sekarang aja. Warga sudah mendukung.”

Rina lirik Nyimas, tatapannya seperti bilang “Kamu yakin mau segel beneran?”

Ada jeda sesaat, dimana Nyimas memperhatikan para pendemo di luar pagar dan karyawan di dalam pagar. Hingga tiba-tiba... Nyimas angkat tangan, minta warga diam. Ajaibnya, keriuhan pelan-pelan reda.

Burhan mendekat. “Bu Nyimas, kami sudah sabar lama. Sungai rusak, anak-anak sakit. Kalau nggak disegel hari ini, kami robohkan gerbang sendiri!”

Sorak warga membahana.

Nyimas tarik napas dalam. Dalam hati, magnet dari Ucok berputar kencang. Ia ingat momen di kafe tadi siang—Ucok yang tulus cerita PHK-nya, pandangan mata yang bikin jantungnya berdegup aneh. Ia juga ingat ratusan karyawan yang bakal nganggur, termasuk Ucok yang baru mulai hidup baru di Gelumbang.

Nyimas naik ke kap kendaraan SUV supaya terlihat semua orang. “Pak Burhan, Bapak-Ibu semua... dengar saya dulu!”

Ia tatap massa, lalu lirik Ucok sebentar—hati kecilnya berbisik, “Ini juga karena dia.”

“Pelanggaran GML berat, kami sudah lihat sendiri. Tapi kalau disegel hari ini, pabrik tutup, ratusan karyawan—saudara kita juga—kehilangan nafkah. Anak-anak mereka gimana? Ekonomi desa gimana?”

Warga mulai berbisik-bisik. Burhan mengerutkan kening. “Terus solusinya apa, Bu?”

Nyimas tegas. “Saya tawarkan jalan tengah—win-win. GML harus akui salah resmi, perbaiki IPAL dalam 30 hari dengan monitoring DLH setiap minggu. Bayar denda administratif, plus kompensasi langsung ke warga: truk air bersih gratis setiap hari, pengobatan gratis buat anak sakit, dan bikin sumur bor baru di desa. Kalau dalam 30 hari nggak ada kemajuan nyata, kami segel tanpa ampun.”

Keriuhan berubah jadi diskusi. Burhan berunding dengan Nurdin dan tokoh lain. Soleh dari balik pagar angguk pelan ke Harahap. “Ini kesempatan.”

Burhan akhirnya angkat tangan. “Kami setuju, Bu Nyimas—asalkan kompensasi mulai hari ini, dan prioritas kerja buat warga lokal kalau pabrik ekspansi nanti.”

Warga sorak setuju. Nyimas menoleh sesaat ke Soleh, yang mengangguk.

Nyimas tersenyum lega. “Deal. Kami buat berita acara sekarang.”

Ia turun dari kap mobil, mendekati gerbang. Soleh buka kunci, gerbang dibuka pelan. Nyimas masuk diikuti Andi dan Rina.

Andi mengerutkan kening—ia tahu dari Rina pagi tadi bahwa Nyimas kepincut Ucok, dan hatinya cemburu berat.


Di ruang meeting Kantor GML, berita acara ditandatangani: Soleh mewakili GML, Nyimas mewakili DLH, Burhan mewakili warga. Ucok berdiri di pojok, tak henti mengagumi pesona Nyimas dengan rasa syukur. Nyimas sesekali balas pandang—magnet dari Ucok terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Saat semua selesai, warga bubar puas. Nyimas keluar gedung. Ucok menyusul pelan.

“Bu Nyimas... makasih banyak. Anda selamatkan kami semua.”

Nyimas tersenyum tipis, aroma parfumnya samar tercium lagi. “Bukan kami semua, Pak Ucok. Tapi... lingkungan dan manusia harus sama-sama menang.”

Mereka saling pandang lama, angin sawit berhembus pelan membawa bau tanah basah. Andi yang melihat Nyimas-Ucok, cemburu.


Di mobil DLH pulang, Andi di belakang setir diam seribu bahasa. Rina yang duduk di samping Andi lantas berbisik pelan menggoda Andi. “Andi, kamu cemburu yo?”

Andi cuma geleng, tapi hatinya sudah gelisah—ia tak mau Nyimas deket Ucok.

Nyimas masuk usai dari toilet SPBU, mereka lanjutkan perjalanan.


Senin malam, di Kantor DLH yang sudah sepi. Tim melapor ke Pak Edi di ruangannya.

Nyimas jelaskan win-win solution dengan suara tenang. Andi dan Rina di sampingnya.

Pak Edi baca berita acara, alis berkerut. “Kamu ambil keputusan besar hari ini, Nyimas. Semoga nggak salah. Monitoring ketat ya—kalau mereka ingkar, langsung segel.”

Nyimas angguk. “Siap, Pak.”


Di pantry Kantor GML malam itu, Harahap, Ucok dan Tono minum kopi bersama beberapa karyawan.

Harahap nepuk pundak Ucok. “Cok, Tulang bangga sama kau. Dari newbie langsung jago mediasi. Kalau nggak ada kau yang nemuin bocor kemarin sama bicara di meeting, mungkin sudah lain ceritanya.”

Ucok tersenyum malu. “Keberuntungan aja, Tulang.”

Harahap tertawa. “Keberuntungan yang kau ciptakan sendiri.”


Malam semakin larut, di parkiran Kantor DLH. Nyimas hendak pulang. Andi tiba-tiba mendekat, wajah serius.

“Nyimas... tunggu.”

Nyimas berhenti. “Ada apa, Andi?”

Andi tarik napas dalam. “Aku... aku suka sama kamu sudah lama. Dari pertama kita kerja bareng. Aku nggak mau kehilangan kesempatan lagi.”

Nyimas terkejut, mata melebar. Ia memang sudah lama curiga, tapi nggak nyangka Andi nyatakan sekarang—tepat saat magnet dari Ucok semakin kuat di hatinya.


Di rumah sewa malam itu, Nyimas masuk kamar dengan mata berkaca. Rina ikut masuk, khawatir.

“Nyimas, kenapa? Cerita dong.”

Nyimas akhirnya nangis pelan di bahu Rina. “Andi tadi nyatakan cinta, Rin. Aku sudah tahu dio suka, tapi dio idak kunjung bilang selama ini. Sekarang pas aku mulai jatuh hati samo Ucok... aku bingung harus makmano.”

Rina peluk Nyimas, menenangkan. “Sabar dulu. Ikuti hati kamu bae. Andi baik, tapi kalau magnet Ucok lebih kuat... mungkin itu jawabannyo.”

Nyimas diam, air mata jatuh—magnet dari Medan itu semakin mengguncang hatinya.


Di ruang TV/Tamu Mess GML malam itu, Harahap mendatangi Ucok dan Tono.

“Cok, mulai Selasa besok kamu dampingi Bu Nyimas inspeksi mingguan IPAL. Biar hubungan kita baik dengan DLH.”

Ucok pura-pura terkejut, padahal senyum dalam hati—pesona Nyimas yang sulit dilupakan bakal sering dia temui sekarang.

BERSAMBUNG...

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 4: PESONA YANG MENGGODA

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Bulan Suci

PT Gelumbang Minyak Lestari