Cewek Body Goals



Hari Minggu, sebuah bus ALS melaju pelan melintasi Jembatan Ampera di Palembang. Di dalam bus yang penuh sesak, Ucok—pemuda Batak 26 tahun bermata sipit tegas dan rahang kuat—duduk di bangku belakang. Rambutnya acak-acakan, kaos oblong kusut, tas ransel tergeletak di pangkuan. Perjalanan panjang dari Medan membuatnya lelah. Sopir bersenandung “Badai Pasti Berlalu”, kenek berteriak memanggil penumpang tambahan, sementara penumpang lain sibuk dengan ponsel atau tidur.

Ucok menatap keluar jendela. Pikirannya melayang ke masa lalu: lulus teknik mesin, 3 tahun kerja di perusahaan distribusi Medan, lalu tiba-tiba di-PHK tanpa pesangon jelas. “Keras kali hidup ini,” gumamnya dalam hati.


Bus berhenti di pinggir jalan lintas, hamparan sawit hijau membentang luas. Ucok turun, debu jalan mengepul. Pamannya, Harahap—pria tambun berusia 50 tahun dengan kumis tebal—sudah menunggu dengan motor kopling.

“Hei, Cok! Sampe juga kau di KABUPATEN GELUMBANG ini!” Harahap memeluk keponakannya.

“Iya, Tulang. Jauh kali dari Medan.”

“Kabar mamakmu gimana? Sehat?”

“Sehat, Tulang. Adikku sudah PNS, kerjanya dekat rumah. Mamak lebih tenang sama dia daripada sama aku yang pengangguran ini.”

Mereka naik motor menuju Desa Suban Baru, perbatasan Kabupaten Gelumbang dan Kabupaten Ogan Ilir. Jalan tanah berbatu bergoyang-goyang, pohon sawit tinggi menjulang, bau tanah basah dan minyak sawit samar tercium.

“Dengar baik-baik, Cok,” teriak Harahap melawan deru motor. “Di sini sawit adalah raja. Banyak peluang. Makanya Tulang suruh kau ke mari. Tapi kadang ada keluhan warga soal limbah—tenang aja, biasa itu.”


Malam itu mereka tiba di mess karyawan PT GELUMBANG MINYAK LESTARI (GML)—barak sederhana di tengah kompleks pabrik. Lampu neon kuning menyinari halaman, jangkrik bersahutan.

Harahap antar Ucok ke kamar kecil: dua tempat tidur besi, meja kayu, lemari sederhana. Teman sekamarnya, Tono—asli Yogya, 27 tahun, wajah ramah dan senyum lebar—sedang buru-buru keluar.

“Salam kenal, Ucok. Aku Tono. Maaf, aku ada urusan dulu. Monggo istirahat!”

Tinggal Harahap dan Ucok. Mereka duduk di tepi tempat tidur.

“Matilah aku, Tulang,” keluh Ucok sambil usap keringat. “3 tahun pengalaman kerja sia-sia. Untung Tulang ajak aku ke sini.”

Harahap tersenyum. “Gelumbang ini baru berkembang, Cok. Pabrik ini juga baru 5 tahun. Besok orientasi, siap kerja?”

Ucok mengangguk, semangat bangkit meski tubuh lelah.

-----


Pagi Senin, mesin pabrik bergaung, tanki besar berkilau di bawah matahari. Setelah orientasi singkat di Ruang HR & Keuangan di Gedung Administrasi & Humas, Ucok dan Harahap keluar ruangan.

CATATAN: Gedung Administrasi & Humas (disingkat "Kantor GML").

Ucok tarik lengan pamannya, suaranya pelan. “Cam mana ini, Tulang? Gajinya kecil kali. Jauh-jauh dari Medan cuma segitu?”

Harahap nepuk pundaknya. "Sabar, Cok. Kami anak perusahaan grup besar di BEI, tapi... induknya lagi ekuitas negatif. Makanya gaji belum maksimal."

"Wah, serius Tulang? Pantas gaji segini..."

"Sudahlah! Yang penting Kau kerja dulu. Kalau kerjamu bagus, Tulang usul naik gaji. Kau ditugaskan di Humas—handle keluhan warga.”

Tiba-tiba Tono muncul. “Pak Harahap, Manajer sudah berangkat ke Palembang. Saya disuruh ke Kecamatan Lembak."

Harahap, "Naik apa kamu, Tono?"

Tono, "Saya mau minta izin, pakai motor kantor".

Harahap, "Nah! Sekalian kamu ajak Ucok ini. Biar dia kenal daerah sini!"

Tono mengangguk, mengiyakan.


Siang itu, di minimarket kecil Kecamatan Lembak, antrean panjang. Ucok berdiri depan kasir. Seorang gadis mendekat: Nyimas, 22 tahun, fresh graduate PNS Dinas Lingkungan Hidup. Baju biasa, tapi tubuhnya—pinggang ramping, dada penuh, pinggul melengkung—masuk kategori body goals. Wajah kuning langsat, mata cokelat tajam, rambut ikal terurai.

“Maaf, Kak. Boleh tukar antrian? Saya buru-buru ke kantor,” pintanya ramah.

Ucok kesal dalam hati, "Bah! Enak kali cewek satu ini. Aku udah antri dari tadi juga."

Tapi melihat Nyimas dan kecantikannya, Ucok langsung mempersilakan. “Silakan, Dek.”

Nyimas berterima kasih berkali-kali, lalu pergi. 

"Baju biasa, tapi tubuhnya proporsional sempurna—masuk kategori body goals." Ucok terpana, matanya mengikuti langkahnya hingga hilang.

Tono yang muncul di samping Ucok tersenyum geli.


Malam di mess, Ucok gelisah tak bisa tidur, terbayang Nyimas. “Sempurna kali dia... Tak tau kenapa, aku terbayang terus senyumnya tadi."

Tono, "Itu jenenge, cinta sekilas pandang."

Ucok, "Tapi sayang, aku gaji kecil. Macam mana mau dekati?" gumamnya.

Tono tertawa. “Makanya kerja yang semangat, biar duit banyak, terus lamar itu cewek!”

“Bah! Gaji kecil macam ini mana mungkin semangat.”

“Aku udah setahun di sini aja kecil, Cok. Kamu enak, Medan masih satu pulau, aku jauh dari Yogya.”

Ucok diam, membenarkan.

Tono, “Udah kenalan tadi?”

“Belum.”

“Hilang kesempatan!”

Ucok tersenyum. “Kalau jodoh, pasti ketemu lagi.”

-----


Hari Selasa di jantung pabrik GML, produksi tak pernah berhenti: CPO dipompa ke tanki, degumming, bleaching, deodorization, fractionation, hingga packaging botol Minyak Goreng Pilat. Di pantry kantor GML, Harahap jelaskan itu ke Ucok sambil merapikan botol.

Harahap, "Sebenarnya, dalam bahasa Palembang sini, 'pilat' adalah kata makian kasar."

Ucok, "Bah! Kenapa pula jadi merek minyak goreng, Tulang?"

Harahap, "Itu dia. 'Pilat' minyak goreng kita ini, bukan 'pilat' dalam bahasa Palembang. Tapi singkatan."

Ucok mengernyitkan dahinya.

Harahap, "Pilat singkatan dari, 'Payo ingat sholat'. Itulah arti dari minyak goreng produksi pabrik kita."

Ucok sampai tak habis pikir, "Alamak. Ngeri kali."

Tiba-tiba telepon Harahap berdering— ada keributan di gerbang. “Cok, kamu ke sana. Pak Manajer masih di Palembang, Tulang mau ke Utility Building.”

Ucok bingung, tapi bergegas bersama Tono. Di gerbang, satpam Amir kewalahan hadapi Burhan (Kades Suban Baru) yang datang bersama 4 warga.

Ucok, “Ada masalah apa, Pak?”

“Sungai kami tercemar parah! Air hitam, ikan mati, anak-anak sakit kulit. Pasti limbah pabrik kalian!” jelas Burhan.

Tono bela, “Gak mungkin, Pak. Kami punya IPAL standar.”

CATATAN: Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Warga makin gaduh, terobos masuk. Di depan kantor GML, massa mendesak. Mobil SUV double cabin DLH tiba—Andi (teknisi lingkungan), Rina (analis data), dan Nyimas keluar dari baris belakang.

Ucok dan Nyimas saling kaget. Nyimas kuasai diri cepat. “Selamat siang. Kami inspeksi mendadak berdasarkan laporan warga.”

Andi serahkan bukti foto dan data. Nyimas buka map: “Kadar oil & grease 10 mg/L—melebihi baku mutu. Ini limbah refinery.”

Debat panas terjadi. Ucok bela perusahaan, Nyimas tegas soal UU Lingkungan Hidup. Keadaan jadi tegang.

Di tengah debat, Ucok notice Nyimas: tegar tapi lembut. Nyimas diam-diam notice baju Ucok basah keringat, otot lengan samar terlihat. Sesaat pandangan mereka bertemu—ada tarikan aneh yang hanya mereka rasakan.

Akhirnya Nyimas ultimatum: “2 hari lagi, kalau tak ada respons perbaikan, pabrik disegel sementara.” Surat diserahkan, tim DLH keluar.

Ucok berdiri sendirian di depan gedung, pegang surat, pandang kendaraan SUV menjauh. Pikirannya terbelah: takut kehilangan kerja, tapi penasaran sama “cewek body goals” yang kini jadi musuh.

BERSAMBUNG...

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 1: CEWEK BODY GOALS

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PT Gelumbang Minyak Lestari

Godaan Making Love