Godaan Making Love
Di tengah hamparan sawit hijau Kabupaten Gelumbang, Sumatera Selatan, sebuah pabrik minyak kelapa sawit baru, PT Gelumbang Minyak Lestari (GML), menjadi pusat cerita yang penuh warna. Ucok, pemuda Batak berusia 26 tahun asal Medan, tiba di sana dengan ransel kusut dan hati penuh harap setelah di-PHK mendadak dari pekerjaan lamanya. Dengan bantuan pamannya, Harahap, yang sudah lebih dulu bekerja di pabrik itu, Ucok mulai hidup baru sebagai staf humas di mess karyawan sederhana.
Di sisi lain, Nyimas, gadis Palembang berusia 22 tahun, fresh graduate yang baru saja menjadi PNS di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gelumbang, menjalani hari-harinya dengan idealisme tinggi. Bersama timnya—Andi dan Rina—ia sering melakukan inspeksi mendadak ke berbagai perusahaan, termasuk GML, karena laporan warga tentang limbah yang mencemari sungai.
Pertemuan pertama Ucok dan Nyimas terjadi secara tak sengaja di sebuah minimarket kecil di Kecamatan Lembak. Nyimas yang buru-buru meminta tukar antrian, dan Ucok—meski awalnya kesal—langsung luluh melihat senyum ramah dan kecantikan alami gadis itu. Sejak saat itu, tanpa disadari, benih-benih perasaan mulai tumbuh di hati Ucok.
Takdir mempertemukan mereka lagi di tengah konflik lingkungan yang memanas. Pabrik GML dituding mencemari sungai desa hingga ikan mati dan anak-anak sakit kulit. Nyimas, sebagai bagian dari tim inspeksi DLH, harus tegas menjalankan tugas meski hatinya mulai goyah setiap kali bertemu Ucok yang selalu membela perusahaan dengan argumen manusiawi. Di balik debat panas soal limbah dan baku mutu, ada tarikan halus yang hanya mereka berdua rasakan—tatapan yang terlalu lama, senyum yang tak sengaja, aroma parfum yang samar, dan getar aneh saat tangan tak sengaja bersentuhan.
Ucok, yang awalnya hanya melihat Nyimas sebagai “cewek body goals” biasa, perlahan menyadari ada yang lebih dari sekadar fisik. Nyimas, yang dibesarkan dalam keluarga terhormat dengan ayah pejabat, mulai mempertanyakan idealismenya ketika melihat perjuangan karyawan pabrik, terutama Ucok yang baru saja kehilangan pekerjaan di kota asalnya.
Sepanjang cerita, pembaca diajak menyelami dua dunia yang bertabrakan: dunia pabrik sawit dengan mess karyawan, gaji pas-pasan, dan tanggung jawab berat terhadap ratusan keluarga; serta dunia kantor pemerintahan dengan prosedur ketat, tekanan dari atasan, dan harapan keluarga. Di tengahnya, ada Ucok dan Nyimas yang terjebak dalam perasaan yang semakin dalam, meski mereka berasal dari latar belakang yang sangat berbeda.
Ada Tono, teman sekamar Ucok dari Yogya yang selalu usil tapi setia; Rina, sahabat Nyimas yang jadi tempat curhat; Andi, rekan kerja Nyimas yang diam-diam menyimpan perasaan; serta Harahap, paman Ucok yang bijaksana sekaligus pelindung. Mereka semua menjadi bagian dari jaringan hubungan yang saling memengaruhi keputusan Ucok dan Nyimas.
Cerita ini bukan hanya tentang cinta dua insan, tapi juga tentang pilihan sulit antara idealisme dan kemanusiaan, antara nafsu dan kesabaran, antara status sosial dan ketulusan hati. Latar bulan Ramadan yang masuk di bagian akhir membawa nuansa baru: introspeksi, perubahan diri, dan pencarian jalan yang lebih baik.
Dari pertemuan tak terduga di minimarket, debat sengit di gerbang pabrik, hingga momen-momen kecil yang penuh makna di sela inspeksi mingguan, pembaca diajak merasakan bagaimana perasaan yang awalnya hanya “magnet” dan “pesona” perlahan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih sakral, dan lebih layak diperjuangkan.
“Godaan Making Love” adalah kisah tentang bagaimana cinta bisa tumbuh di tempat yang tak terduga, di tengah konflik lingkungan, perbedaan kelas, dan tekanan keluarga. Ini tentang perjuangan menahan godaan, belajar dari kesalahan, dan mencari cara terbaik untuk menyatukan dua hati tanpa melanggar nilai yang dipegang teguh.
Dengan latar Sumatera Selatan yang kental—dari dialek Palembang yang halus, makanan khas, suasana pabrik sawit, hingga nuansa Ramadan dan Lebaran di kampung—cerita ini terasa dekat sekaligus penuh harapan. Pembaca akan ikut merasakan detak jantung Ucok dan Nyimas di setiap pertemuan, ikut gelisah saat mereka terpisah, dan ikut tersenyum saat mereka menemukan cara untuk saling memahami.
Ini adalah cerita tentang cinta yang tidak instan, tapi melalui proses panjang yang penuh godaan, kesabaran, dan akhirnya… harapan baru di hari yang suci.
=====
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar