Godaan Takjil



Sore hari Senin di bulan Ramadan, suasana menjelang Maghrib di rumah panggung Burhan, Desa Suban Baru. Halaman rumah sudah ramai. Tikar-tikar plastik warna-warni digelar di tanah yang baru disiram air supaya sejuk. Meja panjang penuh takjil: kolak pisang, es buah, kurma, gorengan, dan teh manis dalam teko besar.

Beberapa bapak-bapak duduk ngobrol santai. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu sibuk antar piring. Bau manis kolak bercampur harum minyak goreng panas.

Di sudut halaman, Harahap, Ucok, Tono, Burhan, dan Nurdin duduk lingkaran kecil. Mereka serius membahas sesuatu.

Burhan, “Jadi, Cok. Kamu bilang biso perbaiki IPAL permanen tanpa biaya besar?”

Ucok angguk pelan, suara tenang. “Iya, Pak. Saya lihat pipa bawah tanahnya banyak belokan tajam. Kalau kita tambah separator gravitasi sederhana dan pompa kecil di titik kritis, limbah minyak bakal tertahan sebelum masuk kolam akhir. Biayanya nggak sampai seratus juta, Pak.”

Harahap nepuk pundak Ucok bangga. “Ini anak Medan punya otak cerdas, Burhan. Tulang-nya aja gak kepikiran ide kayak gitu.”

Nurdin manggut-manggut. “Kalau beneran jadi, sungai kito bersih lagi. Kami dukung, Pak Harahap. Asal janji ditepati.”

Tono nyengir lebar. “Tenang aja, Pak. Ucok orangnya kalau sudah bilang, pasti jalan.”


Kendaraan dinas SUV DLH masuk pelan ke halaman. Andi yang nyetir, Rina di samping, Nyimas di belakang. Pintu terbuka.

Beberapa ibu-ibu langsung menyambut Nyimas dan Rina dengan hangat.

“Ibu Nyimas! Bu Rina! Masuk dulu, sebentar lagi buko puaso!”

Nyimas tersenyum lembut, suara halus. “Terima kasih, Bu. Kami ikut buka di sini bae yo.”

Salah seorang ibu muda mendekat, bawa anak kecilnya yang pipinya sudah mulus lagi. “Bu Nyimas, lihat ini si Adek. Kulitnyo sudah sembuh total. Kalau idak ado kalian yang tekan pabrik kasih obat gratis, entah makmano kami.”

Nyimas usap kepala anak itu pelan. “Alhamdulillah, Bu. Senang sekali lihat dio sehat.”

Ibu lain nyeletuk sambil tertawa, “Eh, Bu Nyimas tambah cantik nian pakai jilbab. Anggun!”

Rina ikut nyengir. “Iyo kan? Aku bae kalah.”

Nyimas cuma tersipu, pipi merona sedikit di balik jilbab krem panjang yang menjuntai rapi.


Di sudut lain, Ucok yang sedang bantu angkat teko teh tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada sosok berjilbab yang baru masuk itu.

“Bu… Nyimas?” gumamnya pelan.

Nyimas menoleh, mata cokelat tajam itu langsung bertemu mata Ucok. Senyum tipis muncul.

“Iya, Pak Ucok,” jawabnya lembut.

Ucok langsung menunduk, jantung berdegup kencang. Aura Nyimas sore ini beda—lebih tenang, lebih anggun, lebih… suci. Tapi entah kenapa, justru makin sulit untuk tidak mencuri pandang.

Andi yang berdiri agak jauh memperhatikan tatapan mereka berdua. Tapi kali ini dia tidak mengerutkan kening seperti biasa. Hanya diam, lalu menghela napas pelan.


Azan Maghrib berkumandang dari masjid kecil sebelah rumah. Semua buru-buru ambil kurma dan air, lalu berwudhu cepat-cepat. Pria ke depan, wanita ke belakang. Sholat berjamaah dipimpin Burhan sendiri.

Setelah salam, suasana kembali ramai. Tikar-tikar diisi lagi untuk makan besar: nasi minyak, ayam goreng, malbi, sambal.

Entah kenapa—mungkin karena ibu-ibu yang mengatur tempat duduk—Ucok dan Nyimas akhirnya duduk satu tikar yang sama, hanya terpisah satu-dua orang di antaranya. Andi duduk di tikar sebelah bersama Rina.

Obrolan ringan mengalir. Awalnya soal puasa, lapar, takjil.

Nyimas pelan-pelan geser lebih dekat ke Ucok saat yang lain sibuk ambil nasi.

“Pak Ucok… Gimana khabar? Sehat, kan?” tanyanya pelan, hampir seperti bisik.

Ucok menoleh sebentar, langsung menunduk lagi. “Alhamdulillah, Bu. Bapak—Ibu gimana?”

“Baik… Puasa lancar?”

“Lancar, Bu. Malah tambah tenang hati.”

Nyimas diam sejenak, lalu suaranya lebih pelan lagi. “Dulu… waktu di rumah Ayah, kenapa Bapak tiba-tiba pergi begitu saja?”

Ucok tarik napas dalam. Tangan memegang sendok, tapi nggak gerak.

“Saya takut dosa, Bu,” jawabnya jujur, suara rendah tapi tegas. “Kita waktu itu semakin dekat… terlalu dekat. Tapi belum halal. Saya nggak kuat kalau terus begitu. Mending saya minggir dulu, daripada nanti khilaf.”

Nyimas diam mendengar. Matanya menatap piring, tapi bibirnya tersenyum kecil.


Burhan tiba-tiba berdiri, “Bapak-Ibu semua! Setelah makan, kita tarawih berjamaah di masjid sebelah ya. Biar lebih khusyuk.”

Semua setuju. Makan selesai cepat, piring dikumpul, lalu rombongan berjalan bersama ke masjid yang cuma beberapa langkah dari rumah.


Tarawih malam itu khusyuk sekali. Suara imam merdu, angin malam sejuk. Ucok di saf pria, Nyimas di saf wanita, tapi hati mereka sama-sama gelisah.

Usai tarawih dan witir, orang-orang pelan-pelan pulang atau ngobrol di halaman masjid. Lampu masjid kuning temaram.


Ucok keluar agak terlambat, hendak ambil motor. Di halaman yang mulai sepi, ia melihat Nyimas berdiri sendirian di bawah pohon, menunggu Rina dan Andi yang masih salam-salaman dengan warga.

Ucok ragu, tapi akhirnya mendekat—jarak aman, sekitar dua meter.

“Bu Nyimas…” panggilnya pelan.

Nyimas menoleh. Cahaya lampu masjid jatuh di wajahnya yang separuh tertutup jilbab. Indah sekali.

“Iya, Pak Ucok.”

Ucok tarik napas dalam, tatap mata Nyimas sebentar lalu turun lagi.

“Saya juga sama, Pak Ucok,” kata Nyimas lebih dulu, suaranya lembut tapi pasti. “Sejak pakai jilbab ini… saya semakin sadar. Saya ingin yang halal saja. Nggak mau lagi yang setengah-setengah.”

Ucok diam, tapi dadanya bergetar. Tatapan mereka bertemu lagi—lama, dalam, penuh makna. Tak ada sentuhan, tak ada kata-kata berani, tapi hati mereka sudah saling terikat lebih kuat dari sebelumnya.

Nyimas dalam hati, "Kenapa kali ini magnet dia terasa di hati, ya? Bukan lagi di tubuh… tapi langsung ke jiwa."

Ucok membatin: "Mengapa pesonanya malam ini menyejukkan sanubariku? Tak lagi membara seperti dulu… tapi malah bikin aku ingin melindunginya seumur hidup."

Tanpa mereka sadari, di balik mobil DLH yang terparkir agak jauh, Kiagus berdiri diam. Ia datang diam-diam atas undangan Burhan, ingin lihat sendiri perkembangan kasus limbah. Tapi yang ia lihat sekarang adalah anaknya sedang berbicara dengan pemuda Medan itu—tatapan mereka penuh cahaya yang tak bisa ia abaikan.

Wajah Kiagus serius, alis berkerut dalam. Tapi ia tak bergerak, hanya memperhatikan dari kejauhan.

BERSAMBUNG...

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 9: GODAAN TAKJIL

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Bulan Suci

Pesona Yang Menggoda

PT Gelumbang Minyak Lestari