Keputusan Cinta
Rabu pagi di Kantor DLH. Nyimas duduk di tempat kerjanya, tapi konsentrasi hilang. Ultimatum ayahnya kemarin masih bergema di kepala. Ia coba fokus pada laporan IPAL, tapi pikiran melayang ke Ucok—magnet dari Medan itu semakin kuat setiap hari.
Rabu siang di GML. Ucok dapat tugas baru dari Harahap—cek stok bahan kimia di warehouse. Tapi pikirannya ke pesona Nyimas. Ia mulai tak sabar menunggu inspeksi Selasa depan.
Rabu sore, Nyimas pulang ke rumah sewa. Ponsel bergetar—pesan dari ayahnya lagi: “Sabtu ini jangan lupo pulang ke Indralaya. Bawa pemuda Medan itu. Kito bicara serius.”
Nyimas kaget. Hati berdegup kencang. Ia kira ini konfrontasi ayah soal kedekatan mereka.
Rabu malam, Nyimas curhat ke Rina di kamar. “Rin, Ayah suruh aku bawa Ucok ke rumah Sabtu ini. Pasti gara-gara kedekatan kami. Aku takut.”
Rina peluk bahu Nyimas. “Ayahmu khawatir bae. Tapi kalau magnet Ucok lebih kuat, ikuti hati kamu pelan-pelan.”
Nyimas diam, mata berkaca.
Kamis pagi di Kantor DLH. Nyimas ambil napas dalam, lalu hubungi Ucok lewat nomor kantor GML.
Di GML, Ucok terima panggilan. “Halo, Pak Ucok? Ini Nyimas. Sabtu ini... Ayah minta saya pulang ke Indralaya. Beliau minta Bapak ikut. Bisa?”
Ucok terkejut, tapi senang. “Bisa, Bu. Saya ikut.”
Ia pikir ini kesempatan deket Nyimas lebih jauh.
Kamis siang, Andi dengar gosip dari Rina (tak sengaja cerita). Andi langsung cemburu memuncak—wajah merah, tangan mengepal.
Kamis sore di GML. Ucok curhat ke Harahap di pantry.
“Tulang, Bu Nyimas minta saya ikut ke rumah ayahnya Sabtu ini. Saya bingung—ini tugas atau gimana?”
Harahap tatap Ucok serius. “Cok, hati-hati. Bu Nyimas anak orang penting. Kalau cuma tugas, jaga sikap. Jangan sampai bercampur perasaan. Bisa repot.”
Ucok angguk, tapi dalam hati pesona Nyimas semakin menggelora.
Kamis malam, Ucok gelisah di mess. Ia mikir perjalanan Sabtu dengan Nyimas—pesonanya semakin dekat, tapi takut salah langkah.
Jumat pagi, Nyimas packing barang pulang. Pikirannya terngiang akan konfrontasi ayah soal Ucok—hati semakin terbelah.
Jumat siang, Andi konfrontasi Nyimas di pantry kantor. “Nyimas, aku dengar kamu akan bawa Ucok ke rumah ayahmu Sabtu ini?”
Nyimas angguk pelan. “Ayah yang suruh, Andi.”
Andi tambah cemburu. “Kenapo harus dio? Aku sudah bilang perasaanku...”
Nyimas diam, magnet Ucok terasa lebih kuat.
Jumat malam, Ucok packing sederhana di kamar. Tono goda: “Kencan akhir pekan nih, Cok? Diundang calon mertua?”
Ucok malu tapi senyum. “Bah, Tono. Cuma tugas.”
-----
Sabtu pagi, Nyimas jemput Ucok dengan mobil hatchback miliknya. Ucok pamit ke Harahap di gerbang utama GML. Chemistry Nyimas dan Ucok mulai naik—obrolan ringan jadi pribadi.
Tiba-tiba mobil pecah ban di jalan sepi, dekat hamparan sawit.
Kiagus di rumah Indralaya gelisah menunggu Nyimas yang tak kunjung datang.
Ban lama dilepas. Pas mau ganti ban baru, hujan deras tiba-tiba turun. Ucok dan Nyimas kelabakan, berteduh di pondok kosong tak berpenghuni di pinggir jalan.
Di rumah Kiagus juga hujan. Ternyata di rumah itu ada Andi bersama keluarganya—mereka sudah datang sejak pagi untuk persiapan "acara penting" malam nanti.
Momen di pondok: hujan deras, mereka berdua saja. Nyimas kedinginan. Ucok lepas jaketnya, rangkul Nyimas pelan. “Bu, jangan kedinginan.”
Bau tanah basah hujan bercampur aroma parfum Nyimas. Tatapan mereka bertemu, nyaris berciuman. Magnet Nyimas + pesona Ucok saling tarik kuat.
“Pesona dia ini terlalu dekat... aku nggak kuat.” Ucok dalam hati.
Nyimas dalam hati: “Ini terlalu dekat...”
Hujan reda. Mereka lanjut perjalanan, suasana canggung tapi manis.
Sabtu siang, Ucok dan Nyimas sampai di rumah Kiagus di Indralaya—rumah besar bergaya modern dengan taman luas. Kiagus menyambut Nyimas hangat, tapi saat tatap Ucok, Kiagus terlihat dingin, seperti tak menganggap kehadiran pemuda itu.
Sabtu sore, momen Andi dan Ucok berdua di halaman belakang rumah yang jauh dari keramaian. Andi dekati Ucok. “Kamu nggak cocok buat Nyimas. Aku lebih tahu dia dari lama.”
Ucok melihat keluarga Andi yang juga pejabat. Ucok merasa tak pantas untuk Nyimas. Ucok diam, tapi hati terluka.
Sunset, Ucok di depan rumah Kiagus. Ucok hendak pulang, tapi Nyimas menahannya. Nyimas ingin Ucok ada saat acara nanti malam. Sebab di hati Nyimas sudah tersimpan Ucok.
Ucok berkata bahwa dia bukan level Nyimas.
"Bu, saya nggak pantas di sini. Sebaiknya Ibu pilih yang lebih baik dari saya."
Ucok pergi, Nyimas menahannya, tapi Ucok tak bisa ditahan.
"Pak Ucok, jangan pergi. Saya butuh Bapak di sini malam ini."
Perpisahan terasa menyakitkan.
Sabtu malam, acara dimulai. Keluarga berkumpul. Ternyata kehadiran Andi di situ untuk melamar Nyimas secara resmi—lengkap dengan cincin dan restu keluarga.
Nyimas kaget total—nggak tahu ini rencana ayah dan Andi. Ia tatap ayahnya, lalu Andi, lalu pintu kosong tempat Ucok tadi pergi.
Apakah Nyimas akan menerima atau menolak lamaran itu?
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE
JUDUL EPISODE 7: KEPUTUSAN CINTA
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar