Konfrontasi Hati
Rabu pagi di rumah sewa Nyimas dan Rina. Nyimas susah tidur gara-gara pesan ayahnya semalam. Ia duduk di meja makan, tatap kosong ke secangkir teh panas.
Rina keluar dari kamar, masih pakai piyama. “Nyimas, muko pucat nian. Kenapo? Cerito dong.”
Nyimas menghela napas. “Ayah semalam kirim pesan, ngomong nak datang ke Gelumbang hari ini. Mau bicara soal kasus GML... dan cowok Medan itu.”
Rina mata melebar. “Wah, Ayahmu tahu darimano soal Ucok?”
Nyimas geleng. “Dak tau, Rin. Mungkin dari orang dalam.”
Rabu pagi di mess GML. Ucok berdiri di depan cermin kecil di kamar, latihan "jaga sikap". “Selamat pagi, Bu Nyimas... Saya dampingi inspeksi hari ini.” Gumamnya sambil senyum paksa.
Tono lewat, masih gosok gigi. “Latihan apa kowe iki, Cok? Kayak lagi persiapan kencan. Gak sabar ketemu pesona itu lagi, yo?”
Ucok malu. “Bah! Inspeksi Selasa depan, Tono. Aku cuma siap-siap aja.”
Rabu siang di Gelumbang. Kiagus turun dari mobil dinas hitam, kumis tebalnya semakin menonjol di bawah matahari terik. Ia langsung menuju Kantor DLH, langkah tegas.
Di ruang Edi. Kiagus masuk, Edi sambut ramah dengan jabat tangan.
“Kiagus, selamat datang. Duduk dulu. Baru kemaren kito ketemu, hari ini lah ketemu lagi."
Kiagus langsung duduk, tapi wajah serius. “Edi, aku salahke kamu. Kenapo suruh Nyimas inspeksi ke GML terus? Itu bahaya!”
Edi bela diri pelan. “Kiagus, itu tugas rutin. Nyimas profesional. Aku dak tahu kalau dio sering bareng satu orang. Inspeksi cuma mingguan.”
Kiagus geleng. “Pokoknya hati-hati. Aku khawatir.”
Di ruang Nyimas di kantor DLH. Telepon meja berdering—resepsionis. “Bu Nyimas, ada Bapak Kiagus mencari Bu.”
Nyimas pucat, tapi cepat bersiap.
Di kantor GML. Harahap panggil Ucok ke pantry. “Cok, dengar Tulang. Jangan macam-macam sama Bu Nyimas. Dia anak pejabat—Sekda Ogan Ilir. Inspeksi itu tugas, jangan bercampur urusan pribadi.”
Ucok angguk, tapi dalam hati pikir pesona Nyimas. “Iya, Tulang. Saya paham.”
Di ruang Edi. Nyimas masuk, Edi pamit tinggalkan mereka berdua. Kiagus tegas langsung.
“Ayah dengar kamu sering bareng orang GML dari Medan. Ayah larang! Fokus kerja, jangan sampai ado gosip. Jago namo baik keluarga kito!”
Nyimas bela diri. “Yah, itu tugas inspeksi. Nyimas profesional.” Tapi dalam hati magnet Ucok berputar lebih kencang.
Kiagus kasih ultimatum. “Kalau Ayah dengar lagi kamu deket samo dio, Ayah pindahke kamu dari kantor ini. Paham?!”
Nyimas angguk pelan, mata berkaca. “Paham, Yah.”
Rabu malam di mess GML. Ucok duduk di teras, mikir pesona Nyimas yang semakin dalam. Namun Ucok juga ingat pesan pamannya, Harahap.
Tono duduk di samping, kasih pepatah Jawa. “Tresno jalaran soko kulino, Cok. Cinta karena terbiasa. Tapi ojo dumeh—jangan kegeeran.”
Ucok tenang sedikit, tapi tetap tak semangat kerja besok. Tono lanjut goda. “Besok Kamis libur inspeksi, tapi Selasa depan pasti ketemu lagi. Sabar wae!”
Rabu malam di rumah sewa. Nyimas nangis lagi di kamar. Rina duduk di samping.
“Rin, Ayah larang keras. Magnet Ucok ini... aku nggak bisa bohong sama hati.”
Rina tenangkan. “Sabar, Nyimas. Ayah khawatir aja. Tapi kalau hati kamu bilang Ucok, ikuti bae pelan-pelan.”
Nyimas peluk Rina, air mata jatuh.
-----
Kamis sampai Minggu jeda akhir pekan. Narasi singkat: Nyimas hindari pikiran Ucok tapi gagal—setiap malam mimpi dia. Ucok kerja biasa tapi sering melamun—pesona Nyimas membuatnya tak sabar menunggu Selasa depan.
-----
Singkat kata Selasa pagi di rumah sewa. Nyimas lebih gugup dari biasanya. Rina goda. “Hari ini ketemu magnet lagi? Hati-hati ya.”
Nyimas geleng sambil senyum tipis. Andi sudah tunggu di mobil dinas, sikap dingin terus.
Di GML. Ucok sambut lagi. Pandang mata pertama Selasa ini—magnet Nyimas + pesona Ucok langsung saling tarik lebih kuat, seperti rindu yang tertahan selama seminggu. Harahap yang menyadari itu langsung was-was, bisik ke Ucok: “Cok, hati-hati. Bu Nyimas anak orang penting.”
Pagi sampai siang itu di lokasi inspeksi. Godaan fisik naik: Ucok bantu Nyimas naik tangga cek tanki (pegang pinggang sebentar), mereka sendirian lebih lama.
Dialog lebih pribadi. Nyimas tanya keluarga Ucok di Medan. Ucok tanya mimpi Nyimas. Sentuhan mata + senyum lebih sering. Nyimas hampir tanya "Bapak punya pacar di Medan?" tapi tahan karena ingat ayah.
Andi cemburu aktif. Andi sengaja nimbrung ganggu momen Ucok-Nyimas, sikap sinis ke Ucok. “Pak Ucok, ini inspeksi resmi, jangan terlalu deket ya.”
Istirahat makan siang. Nyimas-Ucok makan bareng lagi (Andi pisah sengaja). Obrolan hampir ke "perasaan", tapi Nyimas tahan karena ingat larangan ayah.
Selasa sore inspeksi selesai. Kemajuan baik, tapi Nyimas catat beberapa catatan kecil. Saat perpisahan di gerbang, tangan hampir bersentuhan lagi—keduanya kaget.
Selasa malam di rumah sewa. Nyimas mikir: “Magnet ini sudah nggak tertahankan... tapi Ayah dan Andi...”
Di mess GML. Ucok senyum sendiri: “Pesona Nyimas ini semakin dekat... gak sabar rasanya menunggu Selasa depan.”
Malam itu, Nyimas dapat telpon dari Kiagus. "Nyimas! Sabtu kagek kau pulang ke Indralaya. Sekalian ajak pemuda dari Medan itu ke rumah. Ayah mau lihat sendiri siapo dio.”
Nyimas kaget, takut. Apa yang akan ayahnya lakukan terhadap Ucok?
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE
JUDUL EPISODE 6: KONFRONTASI HATI
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar