Magnet Dari Medan
Kamis malam, di rumah sewa Nyimas dan Rina yang dikelilingi pagar bambu sederhana. Nyimas duduk di teras, memandang langit gelap berbintang. Pikirannya penuh dengan wajah Ucok yang penuh harap di ruang meeting tadi siang.
Telepon berdering—ayahnya, Kiagus, suara berwibawa dengan aksen Palembang tegas.
“Nyimas, mak mano kasus GML itu? Jangan biarkan mereka lolos!”
Nyimas cerita samar. “Masih proses, Yah. Tapi ado karyawan baru di sano... orangnyo baik, kasihan dio terjebak situasi.”
Kiagus langsung curiga, nada naik. “Jangan luluh cuma gara-gara orang pabrik! Ayah sudah capek bangun reputasi keluargo kito. Kamu anak pejabat, harus tegas.”
Nyimas gigit bibir, hati terbelah. “Iya, Yah... tapi susah milih antara lingkungan dan manusia.”
Usai ditelpon, Nyimas termenung lebih dalam—ada tarikan magnet kuat yang hanya dia rasakan setiap ingat Ucok.
Sementara itu di Mess GML, Ucok gelisah di kamar, bolak-balik di tempat tidur besi yang berderit.
Tono masuk, baju masih basah keringat. “Cok, piye tho? Mikirin musuh memikat itu?”
Ucok duduk di pinggir kasur. “Entah kenapa, Tono. Tiap ketemu dia, ada pesona yang sulit dilupain. Apalagi tadi siang pas dia tatap aku di meeting...”
Tono tersenyum lebar. “Wah, ini sudah level tinggi! Coba dekati aja.”
Ucok menggeleng, tapi matanya berbinar.
-----
Malam itu Ucok bermimpi: ia menari dangdut-Bollywood dengan Nyimas di tengah hamparan sawit. Nyimas tertarik mendekat seperti ada magnet dari Medan yang menariknya. Mereka berdekapan hampir ciuman...
Tono bangunkan sambil ketawa. “Bangun, Cok! Mimpi apa sampe cium bantal gitu?”
Ucok merah mukanya. “Bah... aku mimpi Nyimas.”
-----
Jumat pagi itu, di Kantor DLH. Ruang rapat kecil ber-AC. Pak Edi—atasan Nyimas—buka laporan IPAL dengan gerakan lambat.
“Ini pelanggaran berat. Bocor karena lalai. Segel saja pabriknya Senin depan!”
Andi setuju cepat. “Warga sudah menderita lama, Pak.”
Nyimas ragu. “Tapi, Pak... kalau disegel, ratusan karyawan bakal nganggur. Apa nggak ada jalan tengah?”
Pak Edi geleng tegas. “Tugas kita lindungi lingkungan dulu, Nyimas. Pikirkan matang-matang akhir pekan ini.”
-----
Setelah akhir pekan yang penuh tekanan dari atasan dan ayahnya, Senin pagi akhirnya tiba. Di rumah sewa, Nyimas dan Rina siap berangkat kerja.
Rina, "Jam berapo kito ke GML nanti?"
Nyimas, "Mungkin siang. Kito siapke dulu berkas-berkas di kantor."
Di pinggir sungai kecil Desa Suban Baru. Demo warga ramai. Nurdin pegang plang “Tutup GML!”, Burhan orasi lantang di depan.
Ucok dan Tono datang naik motor kantor, coba mediasi. “Pak Burhan, kami lagi usaha perbaiki IPAL. Tolong kasih waktu lagi.”
Burhan marah. “Sudah telat! Anak-anak sakit gara-gara limbah kalian! Kalau nggak disegel hari ini, kami tutup sendiri!”
Warga gaduh. Seorang pemuda lempar batu kecil—kena ban motor Ucok.
Ucok dan Tono kabur, debu beterbangan, jantung berdegup kencang.
Di depan Kantor DLH. Mobil SUV DLH hendak keluar. Andi setir, Rina di samping. Nyimas di baris belakang lihat Ucok dan Tono dilarang masuk oleh satpam.
Nyimas suruh Andi berhenti. “Tunggu, Andi.”
Ia keluar mobil, mendekati Ucok. “Pak Ucok... ikut saya.”
Andi dan Tono saling pandang bingung.
Di kafe kecil alun-alun Gelumbang—meja kayu di pojok tenang, es teh manis, angin sepoi menerpa pepohonan rindang.
Ucok cerita terbuka, suara pelan. “Saya di-PHK mendadak di Medan. Pindah ke sini demi peluang baru. Tapi nggak nyangka langsung terlibat masalah besar macam ini.”
Nyimas tatap lembut, aroma parfumnya samar tercium. “Saya fresh graduate, ingin ubah dunia dari bawah. Tapi lihat karyawan seperti Bapak... kasihan juga. Susah rasanya tegas terus.”
Pandang mata lama. Ucok deg-degan karena pesona Nyimas yang sulit dilupain—senyum tipis, mata cokelat tajam, rambut ikal bergoyang angin.
Nyimas dalam hati, "Kenapa setiap dekat dia, ada magnet kuat yang tarik aku?"
Tiba-tiba telepon Nyimas berdering—ayahnya lagi.
Kiagus marah besar. “Nyimas! Ayah dengar kamu ketemu orang GML di kafe? Itu pengaruh buruk! Ayah larang keras kamu deket sama dia. Kasus ini harus tegas—segel pabriknya! Jangan nodai nama baik keluarga!”
Nyimas pucat, mata berkaca. “Iya, Yah...”
Telepon ditutup. Nyimas tarik napas dalam, kuasai diri.
“Maaf, Pak Ucok. Kasus ini menyangkut warga banyak. Saya... nggak bisa banyak bantu.”
Ucok mengerti, meski hatinya berat. “Saya paham, Bu. Tapi terima kasih sudah mau dengar.”
Mereka saling pandang sebentar lagi—magnet yang Nyimas rasakan semakin kuat, pesona yang Ucok terima semakin dalam.
Sore itu, tim DLH dan warga konvoi ke GML untuk tekan segel hari itu juga.
Ucok suruh Amir kunci gerbang GML.
"Magnet ini semakin kuat... tapi tugas harus dijalani." Nyimas di dalam mobil gelisah.
Di depan gerbang, massa dorong-dorong pagar besi. Klakson motor, teriakan “Segel sekarang!” bergema.
Nyimas kaget melihat situasi memanas. Pandangannya bertemu Ucok dari balik pagar—hati Nyimas terbelah antara tugas dan magnet dari Ucok yang semakin kuat.
Apakah GML benar-benar akan disegel hari itu?
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE
JUDUL EPISODE 3: MAGNET DARI MEDAN
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar