Cinta Yang Sesungguhnya



Ruang tamu rumah Kiagus di Indralaya sore itu hening. Cahaya Lebaran kuning keemasan masuk lewat jendela besar, jatuh di karpet tebal dan kursi kayu jati tua. Bau malbi, kue maksuba dan kue kering masih samar tercium dari dapur.

Ucok duduk di kursi tamu, tangan di pangkuan, tas kecil diletakkan di samping. Kiagus duduk di kursi utama, tangan disilang, mata tajam menilai pemuda di depannya.

Nyimas berdiri di ambang pintu ruang tamu, tak berani masuk, tapi tak bisa pergi. Hatinya berdegup gila mendengar setiap kata. Tapi kemudian Nyimas pilih untuk mengintip sambil mencuri dengar dari teras depan.


Kiagus buka mulut duluan. “Kau datang sendiri. Bagus. Ayah suka laki-laki yang berani. Tapi… apa maksudmu datang hari raya begini?”

Ucok tarik napas dalam, tatap Kiagus lurus.

“Pak Kiagus… saya Ucok, karyawan baru di GML. Saya datang karena saya serius sama Nyimas, putri Bapak. Saya ingin meminta restu Bapak… untuk menikahinya secara halal.”

Alis Kiagus berkerut, “Kau tahu siapa saya? Kau tahu status keluarga kami? Kau dari Medan, karyawan pabrik, gaji kecil. Apa yang bisa kau beri ke anak saya?”

Di teras depan, Nyimas khawatir mendengar pertanyaan ayahnya. Tapi ia hanya bisa diam sambil terus berdo'a di dalam hati.

Ucok angguk pelan, suara tetap tenang.

“Saya tahu, Pak. Saya nggak punya apa-apa selain niat tulus. Saya pernah di-PHK di Medan, pindah ke sini demi hidup baru. Di GML, saya cuma staf humas biasa. Gajinya memang kecil, rumah belum punya, tabungan belum banyak.”

Kiagus mendengus pelan. “Terus apa yang membuat kamu berani datang ke sini?”

Ucok tatap Kiagus dalam-dalam.

“Ramadan ini, Pak. Waktu Malam Lailatul Qadar, saya berdoa: kalau Nyimas jodoh saya, tunjukkan jalan yang "halal". Dan hati saya mantap: saya harus datang ke sini, bicara sama Bapak, bukan sembunyi-sembunyi.”

Nyimas di pintu, air mata jatuh pelan mendengar penekanan kata "halal" tersebut.

Ucok lanjut, suara bergetar tapi tegas. “Saya nggak janji bisa kasih Nyimas rumah mewah atau mobil. Tapi saya janji akan usaha mati-matian. Saya akan jaga dia, lindungi dia, bahagiakan dia dengan cara halal. Saya akan jadi imam yang baik, insyaAllah.”

Kiagus diam lama. Mata tajamnya pelan-pelan melunak. Ia tahu bagaimana Ucok selamatkan pabrik dan sungai desa—kabar itu sudah sampai ke telinganya lewat Burhan.

“Terus terang, saya belum 100% yakin kamu jodohnya Nyimas,” kata Kiagus akhirnya, suara lebih lembut. “Tapi saya lihat kamu laki-laki bertanggung jawab. Kamu datang sendiri, jujur soal kekuranganmu, dan yang terpenting—kamu mau belajar dari Ramadan."

Ucok di ruang tamu dan Nyimas di teras depan diam menunggu.


"Saya restui kalian bertunangan dulu. Satu tahun. Kalau dalam setahun kamu bisa buktikan mampu tanggung jawab rumah tangga, baru kita bicara akad.”

Ucok langsung sujud syukur di karpet, air mata jatuh. “Terima kasih, Pak… terima kasih banyak.”

Nyimas tak tahan lagi. Ia masuk ruangan, mata berkaca-kaca, tatap Ucok penuh cinta.

Kiagus lihat anaknya, lalu angguk pelan. “Nyimas… Ayah lakukan ini karena ingin kamu bahagia.”

Nyimas peluk ayahnya sebentar, lalu berdiri di samping Ucok—jarak aman, tapi hati sudah satu.

-----


Sunset Lebaran di teras rumah Kiagus. Cahaya jingga membalut halaman. Ucok, Nyimas, dan Kiagus duduk bersama minum teh.

Saat Kiagus masuk sebentar ke dalam, Ucok dan Nyimas duduk berdua di bangku teras.

Nyimas, "Mulai saat ini, kalau kita berdua, jangan lagi panggil aku 'Bu Nyimas'. Panggil aku 'Umi'. Dan aku akan memanggilmu 'Abi'."

Sesaat hening. Lantas Ucok bisik pelan, mata penuh harap. “Setahun ini akan aku buktikan, Umi… lalu aku halalkan kamu sepenuhnya. Menjadi istriku… cinta yang sesungguhnya.”

Nyimas tersenyum, air mata bahagia jatuh. “Aku tunggu, Abi. InsyaAllah.”

Angin Lebaran berhembus lembut, membawa bau kue engkak dan harapan baru.


SEKIAN.

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 12: CINTA YANG SESUNGGUHNYA

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----




Komentar