Truly Making Love



Senin malam, rumah sewa Nyimas dan Rina di kota Kabupaten Gelumbang. Lampu teras kuning temaram, mobil dinas DLH yang dibawa Andi baru pergi. Nyimas dan Rina memasuki pekarangan, tapi langkah Nyimas terhenti. Di kursi bambu teras, Kiagus duduk sendirian, tangan memegang tas kecil.

“Yah…? Assalamualaikum!” Nyimas kaget, suara pelan.

"Wa'alaikumsalam," balas Kiagus.

Baru Nyimas sadar bahwa mobil ayahnya terparkir di seberang jalan. Rina langsung paham situasi. “Aku masuk dulu yo,” katanya cepat, lalu menghilang ke dalam rumah.

Kiagus berdiri, tatapannya tegas tapi ada khawatir di baliknya.

“Ayah sudah paham sekarang. Ayah lihat kalian tadi di halaman masjid,” katanya langsung, suara rendah. “Tatapan kalian… Ayah tahu itu bukan tatapan biaso.”

Nyimas menunduk, tangan memegang ujung jilbab. “Yah, kami cuma ngobrol bae sebentar…”

Kiagus menghela napas panjang. “Ayah idak marah, Nyimas. Ayah cuma khawatir. Kalau pemuda Medan itu serius, suruh dio datang sendiri ke rumah Ayah. Bicara laki-laki ke laki-laki. Jangan sembunyi-sembunyi mak ini.”

Nyimas mengangguk pelan, mata berkaca. “Iya, Yah…”

Kiagus memeluk anaknya sebentar, lalu naik mobil dinas yang menunggu di luar pagar. Mobil melaju pelan meninggalkan rumah sewa.

-----


Pagi Selasa, ruang manajer Kantor GML. Soleh duduk di kursi besar, kacamata tebalnya memantul cahaya lampu neon. Di depannya, Ucok berdiri presentasi dengan papan tulis kecil dan sketsa pipa.

“Jadi, Pak, dengan separator gravitasi ini ditambah pompa 5 HP di titik ini,” Ucok tunjuk sketsa, “kita bisa turunkan oil & grease sampai di bawah 5 mg/L. Biaya total 85 juta, bisa dicicil dari anggaran maintenance.”

Harahap, Tono, dan dua mandor utility manggut-manggut. Soleh tersenyum tipis—jarang sekali.

“Bagus, Ucok. Ide ini kita jalankan secepatnya. Kalau berhasil, ini bukan cuma selamatkan pabrik, tapi nama baik kita di mata warga.”

Harahap nepuk punggung Ucok bangga saat keluar ruangan. “Tulang bilang apa, Cok? Kau memang punya masa depan di sini.”


Siang hari di Kantor DLH. Ruang kecil Nyimas sepi. Andi masuk pelan, tutup pintu.

“Nyimas… boleh bicara sebentar?”

Nyimas angguk, taruh pena di meja.

Andi tarik napas dalam, tatap Nyimas lama sebelum bicara.

“Aku sudah lamo suka samo kamu. Dari pertamo kito kerjo bareng. Aku pikir dengan kesabaran, suatu hari kamu akan menyadari perasaanku. Tapi semalam… aku lihat matamu waktu ngobrol sama Ucok. Cahayanyo beda. Hidup nian.”

Nyimas mau bicara, tapi Andi angkat tangan pelan.

“Biar aku selesaikan. Aku tahu hati kamu sudah memilih dio. Dan aku idak mau jadi penghalang. Aku mundur, Nyimas. Dengan ikhlas. Aku doakan kalian yang terbaik… tapi aku jugo harap dio mengerti makna cinta yang sesungguhnyo. Bukan cuma godaan sesaat, tapi kesabaran, tanggung jawab, dan menjaga kamu sampai halal.”

Air mata Nyimas jatuh pelan. “Andi… maaf. Aku idak pernah nak buat kamu sakit hati.”

Andi tersenyum tipis, matanya juga basah. “Aku yang terlambat. Semoga dio biso jago kamu lebih baik dari yang aku bayangkan.”

Andi keluar ruangan pelan, pintu tertutup lembut.


Sore di area IPAL GML. Matahari mulai condong. Ucok dan Tono duduk di pinggir kolam, kaki menggantung, sepatu basah lumpur.

Tono nyengir. “Cok, cerita dong. Waktu hujan di pondok itu… kalian berdua ngapain tho?”

Ucok diam lama, tatap air kolam.

“Aku cuma rangkul dia, Tono. Karena kedinginan. Nggak cium, nggak apa-apa. Tapi aku merasa berdosa berat. Mungkin gara-gara itu Nyimas sekarang pakai jilbab. Aku takut dosaku bikin dia berubah.”

Tono tepuk pundak Ucok. “Wes, ojo mikir berlebihan. Pepatah Jawa bilang: tresno jalaran soko kulino, nanging kulino jalaran soko tresno. Cinta karena terbiasa, tapi terbiasa karena cinta. Kalian berdua sudah saling menjaga, itu bagus.”

Ucok tersenyum kecil. “Tapi aneh, Tono. Sejak dia pakai jilbab… kecantikannya malah lebih kerasa di hati. Bukan lagi di mata.”


Menjelang Maghrib di rumah sewa. Nyimas duduk di kamar, jilbab masih dipakai. Rina masuk bawa teh hangat.

“Nyimas… Andi tadi cerito ke aku. Dio mundur.”

Nyimas angguk pelan, air mata jatuh lagi. “Aku meraso bersalah, Rin. Andi orang baik.”

Rina peluk Nyimas. “Kamu idak salah. Kamu ikuti pilihan hati sendiri. Andi jugo paham itu.”


Malam di masjid kecil kompleks GML. Tarawih berjamaah selesai. Orang-orang pulang pelan-pelan. Ucok pulang ke mess dengan hati yang masih berat.

-----


Di mess, Ucok gelisah di tempat tidur besi. Ia bolak-balik, akhirnya bangun. 

Mimpi malam ini kembali ke pondok hujan—aroma parfum Nyimas, tubuhnya yang dingin di rangkulan, hampir… hampir saja.

-----


Ucok bangun keringat dingin. Ia ambil Al-Qur'an, duduk di lantai kamar, baca pelan sampai subuh. Tono terbangun sebentar, lihat Ucok, lalu molor lagi.

Di rumah sewa, Nyimas juga menangis sendirian di sajadah. Godaan hati kuat sekali—ingin bertemu Ucok, ingin dekat lagi. Tapi jilbab di kepala jadi pengingat: harus suci, harus sabar.

Rina masuk, peluk Nyimas dari belakang. “Sabar ya… Allah tahu yang terbaik.”

-----


Siang Rabu di pantry Kantor GML. Ucok duduk sendirian dengan Harahap.

“Tulang… aku ada rencana mau ke rumah Pak Kiagus. Bicara serius.”

Harahap tatap ponakannya lama. “Kau yakin, Cok? Dia anak pejabat. Kau belum punya apa-apa.”

Ucok angguk tegas. “Aku sadar dulu aku bayangkan making love itu seperti di film-film—godaan, dekat-dekat fisik. Tapi Ramadan ini ajarkan aku bedanya. Cinta yang sesungguhnya itu sabar, halal, dan tanggung jawab. Aku mau buktikan aku bisa jadi laki-laki yang layak buat Nyimas.”

Harahap tersenyum kecil. “Memohon-lah kepada Allah, Cok. Jika memang Nyimas jodohmu, nanti akan ditunjukkan jalannya kepadamu.”


Rabu—malam Lailatul Qadar di masjid kecil GML. Masjid penuh, lampu redup, suasana khusyuk.

Usai tarawih dan doa panjang, orang-orang pelan-pelan pulang. Ucok tetap tinggal sendirian di saf belakang. Ia sujud lama, menangis pelan.

“Ya Allah… jika Nyimas bukan jodohku, hapuskan rasa ini dari hatiku. Tapi jika dia untukku… tunjukkan jalan halal kepadaku. Aku ingin menikahinya dengan cara yang Engkau ridhai.”

Ucok bangun dari sujud. Hatinya tiba-tiba tenang. Seperti ada bisikan halus, "Pergilah. Datanglah. Bicara."

Ia tersenyum kecil di tengah tangis. Hidayah malam itu jelas: kalau serius, ia harus melamar secepatnya.

Ucok keluar masjid, langit malam penuh bintang. Angin sejuk membelai wajahnya.

Di saat yang sama, di rumah sewa, Nyimas juga baru selesai doa malam. Ia tatap langit dari jendela kamar—seolah merasakan hal yang sama.

BERSAMBUNG... 

=====

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 10: TRULY MAKING LOVE

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----




Komentar