Cinta di Bulan Suci
Sabtu malam di rumah Kiagus, Indralaya. Ruang tamu besar sudah penuh keluarga. Lampu kristal berkilau, meja makan penuh hidangan khas Palembang. Andi berdiri di tengah, lantas membuka kotak cincin beludru hitam, sambil bersimpuh di hadapan Nyimas. Keluarga Andi dan Kiagus duduk tersenyum, menunggu momen itu.
Nyimas berdiri di depan Andi, wajah pucat. Ia tatap ayahnya yang angguk penuh harap, lalu Andi yang tersenyum lembut, kemudian pintu kosong tempat Ucok tadi pergi. Magnet dari Medan itu masih berputar kencang di hatinya.
Andi buka kotak cincin. “Nyimas... aku sudah lama menunggu momen ini. Aku ingin kita bangun rumah tangga bersama. Maukah kamu menikah denganku?”
Semua mata tertuju ke Nyimas. Kiagus tatap tegas, seperti bilang “Ini yang terbaik buat kamu.”
Nyimas tarik napas dalam, suara pelan tapi jelas. “Andi... terima kasih atas perasaanmu. Aku menghargai sekali. Tapi... aku butuh waktu untuk pikirkan ini baik-baik. Ini mendadak, dan aku nggak mau buru-buru.”
Andi tersenyum paksa, tapi angguk. “Aku paham, Nyimas. Aku tunggu jawabanmu, berapa lama pun.”
Kiagus alis berkerut sebentar, tapi cepat tersenyum. “Baiklah, kalau Nyimas butuh waktu, kita kasih. Yang penting malam ini kita rayakan kebersamaan keluarga.”
Keluarga Andi dan Kiagus tetap ramah—acara lanjut makan malam, obrolan ringan, semua baik-baik. Urusan lamaran gantung tanpa drama besar. Semua pulang dengan senyum, meski Nyimas tahu hatinya masih terbelah.
-----
Beberapa minggu berlalu. Inspeksi mingguan berlanjut, tapi Nyimas minta Andi dampingi—hindari Ucok sebisa mungkin. Ucok fokus kerja, tapi pesona Nyimas masih menghantui.
Singkat kata bulan Ramadan tiba. Masjid kecil di kompleks GML ramai tarawih. Suara adzan magrib bergema, karyawan berbuka dengan kurma dan takjil sederhana.
Ucok obati luka hatinya dengan ibadah lebih rajin. Sahur sendirian di mess, baca Al-Qur'an sampai subuh. Puasa bikin dia lebih sabar, tapi setiap malam pesona Nyimas masih muncul di pikiran.
Harahap puji Ucok di pantry saat sahur. “Cok, kamu semakin rajin ibadah. Bagus, obati hati dengan yang baik.”
Ucok senyum tipis. “Iya, Tulang. Puasa ini bikin aku lebih tenang.”
Nyimas di rumah sewa juga mulai pakai jilbab setiap hari—simbol penjagaan hati setelah malam lamaran. Rina puji. “Cakep nian pakai jilbab, Nyimas. Lebih anggun.”
Nyimas diam. Jilbab jadi cara dia "tutup" magnet Ucok yang terlalu kuat, sambil pikir lamaran Andi yang masih gantung.
Andi ajak Nyimas buka puasa bareng beberapa kali, tapi Nyimas tolak pelan. “Maaf, Andi. Aku masih butuh waktu.”
-----
Sore hari Senin di bulan Ramadan, rumah Burhan di Desa Suban Baru ramai. Burhan undang tim DLH (Nyimas, Andi, Rina) dan tim GML (Harahap, Tono, Ucok) buka puasa bersama—terima kasih atas resolusi damai dan kompensasi yang jalan baik.
Ucok datang bersama Harahap dan Tono, nggak nyangka ketemu Nyimas lagi setelah sekian lama.
Nyimas masuk rumah Burhan pakai jilbab panjang, lebih anggun dari biasanya. Mata cokelat tajam masih sama, tapi aura lebih tenang.
Ucok duduk di ruang tamu, ia terkejut melihat Nyimas masuk. Meski Nyimas sudah memakai jilbab yang menyisakan wajah, namun pesonanya tak hilang di hati Ucok.
Nyimas sesekali mencuri pandang ke arah Ucok dari kejauhan—magnet Ucok masih sama.
Hingga di satu momen dimana yang lain tak menyadari, tatapan mereka bertemu. Ucok dan Nyimas saling pandang lama di antara keramaian—magnet dari Medan dan pesona Nyimas saling tarik lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
Apakah Ramadan ini akan menyembuhkan luka hati mereka, atau justru membawa mereka lebih dekat?
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE
JUDUL EPISODE 8: CINTA DI BULAN SUCI
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar