Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Kata Penutup

Gambar
Akhirnya, setelah 12 episode panjang, "Godaan Making Love" selesai juga. Cerbung ini lahir dari keinginan sederhana: ingin menulis kisah cinta yang tidak instan, yang tumbuh pelan di tengah konflik nyata kehidupan—antara lingkungan dan pembangunan, antara idealisme dan kemanusiaan, antara godaan nafsu dan kesabaran menunggu halal. Saya terinspirasi dari banyak cerita nyata di daerah-daerah sawit Sumatera Selatan: karyawan pendatang yang jauh dari keluarga, anak muda PNS yang ingin ubah dunia, warga desa yang khawatir sungai tercemar, dan tentu saja, cinta yang sering kali muncul di tempat paling tak terduga.  Meski Kabupaten Gelumbang dan PT GML fiktif belaka (terinspirasi dari Kecamatan Gelumbang di Muara Enim serta wacana pemekarannya), saya harap pembaca merasa seperti sedang berada di sana—bau tanah sawit basah, deru mesin pabrik, aroma kolak saat buka puasa bersama, dan angin Lebaran yang membawa harapan baru. Terima kasih banyak kepada semua pembaca yang setia mengikuti...

Cinta Yang Sesungguhnya

Gambar
Ruang tamu rumah Kiagus di Indralaya sore itu hening. Cahaya Lebaran kuning keemasan masuk lewat jendela besar, jatuh di karpet tebal dan kursi kayu jati tua. Bau malbi, kue maksuba dan kue kering masih samar tercium dari dapur. Ucok duduk di kursi tamu, tangan di pangkuan, tas kecil diletakkan di samping. Kiagus duduk di kursi utama, tangan disilang, mata tajam menilai pemuda di depannya. Nyimas berdiri di ambang pintu ruang tamu, tak berani masuk, tapi tak bisa pergi. Hatinya berdegup gila mendengar setiap kata. Tapi kemudian Nyimas pilih untuk mengintip sambil mencuri dengar dari teras depan. Kiagus buka mulut duluan. “Kau datang sendiri. Bagus. Ayah suka laki-laki yang berani. Tapi… apa maksudmu datang hari raya begini?” Ucok tarik napas dalam, tatap Kiagus lurus. “Pak Kiagus… saya Ucok, karyawan baru di GML. Saya datang karena saya serius sama Nyimas, putri Bapak. Saya ingin meminta restu Bapak… untuk menikahinya secara halal.” Alis Kiagus berkerut, “Kau tahu siapa saya? Kau tahu ...

Hari Raya Yang Mendebarkan

Gambar
Beberapa hari berlalu sejak malam Lailatul Qadar. Hari-hari terakhir Ramadan, matahari pagi sudah terik di atas kompleks GML. Mobil dinas SUV dari DLH masuk gerbang pelan. Amir langsung buka palang, senyum lebar. “Langsung ke belakang saja, Bu! Semua sudah nunggu!” Rina dari jendela depan, “Baik, Pak Amir!” Mobil melaju ke area IPAL. Di sana sudah ramai: Soleh, Harahap, Tono, Burhan, Nurdin, mandor utility, karyawan, bahkan puluhan warga desa berdiri mengelilingi kolam pengolahan yang baru. Ucok berdiri di tengah, baju kerja basah keringat, tangan hitam oli. Separator gravitasi buatannya berdengung pelan, air keluar bening mengkilat. Soleh tepuk tangan duluan. “Hari ini monitoring terakhir. Kalau lolos, kita semua bebas.” Andi ambil sampel dari beberapa titik, Rina catat cepat. Nyimas berdiri agak ke belakang, jilbab panjangnya berkibar tertiup angin sawit, mata tak lepas dari Ucok yang sedang jelaskan detail ke Burhan. Hasil lab keluar—di bawah 3 mg/L. Burhan angkat tangan tinggi, sua...

Truly Making Love

Gambar
Senin malam, rumah sewa Nyimas dan Rina di kota Kabupaten Gelumbang. Lampu teras kuning temaram, mobil dinas DLH yang dibawa Andi baru pergi. Nyimas dan Rina memasuki pekarangan, tapi langkah Nyimas terhenti. Di kursi bambu teras, Kiagus duduk sendirian, tangan memegang tas kecil. “Yah…? Assalamualaikum!” Nyimas kaget, suara pelan. "Wa'alaikumsalam," balas Kiagus. Baru Nyimas sadar bahwa mobil ayahnya terparkir di seberang jalan. Rina langsung paham situasi. “Aku masuk dulu yo,” katanya cepat, lalu menghilang ke dalam rumah. Kiagus berdiri, tatapannya tegas tapi ada khawatir di baliknya. “Ayah sudah paham sekarang. Ayah lihat kalian tadi di halaman masjid,” katanya langsung, suara rendah. “Tatapan kalian… Ayah tahu itu bukan tatapan biaso.” Nyimas menunduk, tangan memegang ujung jilbab. “Yah, kami cuma ngobrol bae sebentar…” Kiagus menghela napas panjang. “Ayah idak marah, Nyimas. Ayah cuma khawatir. Kalau pemuda Medan itu serius, suruh dio datang sendiri ke rumah Ayah. B...