Hari Raya Yang Mendebarkan




Beberapa hari berlalu sejak malam Lailatul Qadar. Hari-hari terakhir Ramadan, matahari pagi sudah terik di atas kompleks GML.

Mobil dinas SUV dari DLH masuk gerbang pelan. Amir langsung buka palang, senyum lebar.

“Langsung ke belakang saja, Bu! Semua sudah nunggu!”

Rina dari jendela depan, “Baik, Pak Amir!”

Mobil melaju ke area IPAL. Di sana sudah ramai: Soleh, Harahap, Tono, Burhan, Nurdin, mandor utility, karyawan, bahkan puluhan warga desa berdiri mengelilingi kolam pengolahan yang baru.

Ucok berdiri di tengah, baju kerja basah keringat, tangan hitam oli. Separator gravitasi buatannya berdengung pelan, air keluar bening mengkilat.

Soleh tepuk tangan duluan. “Hari ini monitoring terakhir. Kalau lolos, kita semua bebas.”

Andi ambil sampel dari beberapa titik, Rina catat cepat. Nyimas berdiri agak ke belakang, jilbab panjangnya berkibar tertiup angin sawit, mata tak lepas dari Ucok yang sedang jelaskan detail ke Burhan.

Hasil lab keluar—di bawah 3 mg/L.

Burhan angkat tangan tinggi, suara lantang. “Bersih! Sungai kito selamat berkat anak Medan ini!”

Sorak sorai meledak. Warga peluk karyawan, karyawan jabat tangan warga. Anak-anak kecil berlarian girang. Harahap peluk Ucok erat, mata berkaca.

“Tulang bangga sekali, Cok. Kau bukan cuma selamatkan pabrik, tapi selamatkan nama baik kita semua.”

Ucok cuma tersenyum malu, tapi matanya mencari Nyimas di kerumunan. Nyimas berdiri diam, senyum tipis bangga tersembunyi di balik jilbab—hati bergetar, tapi profesional sampai akhir.


Usai sholat Zuhur berjamaah di masjid kecil kompleks GML. Orang-orang masih salam-salaman.

Andi dan Rina mendekat ke Nyimas. “Kami pamit dulu ya. Nggak mau ganggu,” kata Andi lembut, senyum tulus.

Rina peluk Nyimas sebentar. “Semoga semuanya baik-baik yo.”

Mereka pergi. Nyimas diam sejenak, lalu berjalan mendekati Ucok yang sedang lipat sajadah sendirian di pojok masjid.

Angin siang panas, bau tanah sawit basah.

“Pak Ucok…” panggil Nyimas pelan.

Ucok menoleh, jantung langsung berdegup kencang. “Bu Nyimas"

Nyimas, "Selamat ya atas hasil hari ini.”

"Selamat juga buat Ibu. Monitoring terakhir lancar berkat tim DLH".

Nyimas tatap Ucok lama, mata cokelat itu penuh makna.

“Bapak sudah siap… menemui Ayah?”

Ucok tarik napas dalam, tatap Nyimas balik—jarak aman, tapi hati saling sentuh.

Ucok: “Saya sudah putuskan, Bu. Besok malam takbir, lusa pagi sholat Id, habis itu saya langsung berangkat ke Indralaya. Sendiri. Dengan apa adanya.”

Nyimas gigit bibir bawah, suara hampir bergetar. “Ayah sudah kasih syarat itu. Kalau Bapak nggak datang… mungkin beliau anggap Bapak nggak serius.”

Ucok angguk tegas, mata tak lepas. “Saya serius, Bu. Lebih serius dari apa pun yang pernah saya rasakan. Ramadan ini ajarkan saya: cinta yang sesungguhnya bukan yang membara sesaat, tapi yang berani ambil tanggung jawab di jalan Allah. Saya mau buktikan... bahwa saya layak.”

Air mata Nyimas hampir jatuh, tapi ia tahan. “Saya percaya Bapak bisa. Tapi… saya takut juga. Takut Ayah terlalu keras.”

Ucok tersenyum kecil, suara lembut tapi penuh keyakinan. “Biarkan saya yang hadapi, Bu. Kalau Allah izinkan, besok sore saya akan duduk di depan Ayah… dan bilang bahwa saya ingin halalkan Bu Nyimas.”

Nyimas menunduk, pipi merona di balik jilbab. “Saya doakan Bapak… dari sini sampai sana.”

Mereka diam sejenak, angin sawit berhembus pelan membawa bau daun basah. Tak ada sentuhan, tapi ikatan hati semakin kuat.

-----


Hari Idulfitri tiba. Takbir bergema malam hingga pagi di seluruh Gelumbang dan Indralaya. Bau ketupat, opor ayam, malbi, kue maksuba, engkak menguar dari setiap rumah.

Pagi hari, masjid kecil kompleks GML ramai baju koko putih dan sarung baru. Usai sholat Id, semua saling bermaaf-maafan.

Soleh peluk Harahap, Harahap peluk Tono, Tono peluk Amir. Ucok ikut lingkaran, mata berkaca saat Harahap peluk dia erat.

“Cok… kau mau berangkat ke Indralaya ya?”

Ucok angguk. “Iya, Tulang. Minta restu.”

Harahap nepuk pundak ponakannya kuat-kuat. “Ini baru anak Medan sejati. Tulang bangga dengan kau. Pergi sana, bawa niat baik. Tulang doakan dari sini.”

Ucok peluk Harahap lama, lalu naik motor kantor yang sudah dipinjamkan. Di boncengan belakang, tas kecil berisi baju koko terbaiknya, Al-Qur'an saku, dan oleh-oleh sederhana: kue kering buatan sendiri yang ia bikin semalam suntuk.

Motor melaju keluar gerbang GML. 


Di tengah jalan, dekat hamparan sawit, ia melewati pondok kecil tempat dulu ia dan Nyimas berteduh hujan. Pondok itu sekarang sedang dirobohkan—dua pekerja lagi angkat kayu lapuk.

Pekerja satu lihat Ucok berhenti sebentar. “Mau dibuat pos satpam baru, Bang! Pondoknya sudah buruk.”

Pekerja dua, “Iya, bahaya kalau dibiarkan.”

Ucok tersenyum kecil dalam hati, "Ya Allah… masa lalu yang hampir khilaf itu Kau hapuskan. Ganti dengan yang baru, yang halal."

Ia gas motor lagi, angin Lebaran menerpa wajah.

-----


Di rumah besar Kiagus di Indralaya. Nyimas duduk di teras, jilbab baru warna hijau lembut, tangan memegang sajadah lipat. Hati berdebar sejak pagi—setiap suara motor lewat, ia menoleh.

Kiagus keluar dari ruang tamu, duduk di samping anaknya.

“Pemuda Medan itu… Jadi datang hari ini?”

Nyimas angguk pelan. “InsyaAllah, Yah. Dio lah janji dengan aku.”

Kiagus diam, tatap jalan depan rumah. “Ayah lihat sendiri nanti. Kalau dio serius, Ayah akan dengar.”

Nyimas tarik napas dalam, doa dalam hati terus.


Sore di hari raya Idulfitri, matahari mulai condong ke barat—cahaya Lebaran kuning keemasan.

Suara motor tua terdengar dari kejauhan. Nyimas berdiri cepat, hati hampir loncat.

Motor kantor berdebu berhenti di pekarangan. Ucok turun, baju koko putih agak kusut perjalanan, tapi mata tegas.

Nyimas bukan main bahagia—senyum lebar, mata berkaca.

“Ayah sudah menunggu dari tadi,” katanya pelan, suara bergetar senang.

Ucok angguk, tarik napas dalam. Ia jalan mendekati teras.

“Assalamualaikum,” sapa Ucok hormat.

Kiagus berdiri, tatap Ucok dari atas sampai bawah—baju sederhana, motor pinjam, tas kecil. Wajah datar, tapi ada kilat hormat di mata.

“Wa'alaikumsalam,” jawab Kiagus.

Ucok maju, cium tangan Kiagus dengan hormat. Kiagus biarkan, lalu lirik Nyimas sesaat—mata anaknya penuh harap yang tak bisa disembunyikan.

“Masuk dulu. Kita bicara di dalam.”

BERSAMBUNG...

-----

JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE

JUDUL EPISODE 11: HARI RAYA YANG MENDEBARKAN

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Bulan Suci

Pesona Yang Menggoda

PT Gelumbang Minyak Lestari