Postingan

Kata Penutup

Gambar
Akhirnya, setelah 12 episode panjang, "Godaan Making Love" selesai juga. Cerbung ini lahir dari keinginan sederhana: ingin menulis kisah cinta yang tidak instan, yang tumbuh pelan di tengah konflik nyata kehidupan—antara lingkungan dan pembangunan, antara idealisme dan kemanusiaan, antara godaan nafsu dan kesabaran menunggu halal. Saya terinspirasi dari banyak cerita nyata di daerah-daerah sawit Sumatera Selatan: karyawan pendatang yang jauh dari keluarga, anak muda PNS yang ingin ubah dunia, warga desa yang khawatir sungai tercemar, dan tentu saja, cinta yang sering kali muncul di tempat paling tak terduga.  Meski Kabupaten Gelumbang dan PT GML fiktif belaka (terinspirasi dari Kecamatan Gelumbang di Muara Enim serta wacana pemekarannya), saya harap pembaca merasa seperti sedang berada di sana—bau tanah sawit basah, deru mesin pabrik, aroma kolak saat buka puasa bersama, dan angin Lebaran yang membawa harapan baru. Terima kasih banyak kepada semua pembaca yang setia mengikuti...

Cinta Yang Sesungguhnya

Gambar
Ruang tamu rumah Kiagus di Indralaya sore itu hening. Cahaya Lebaran kuning keemasan masuk lewat jendela besar, jatuh di karpet tebal dan kursi kayu jati tua. Bau malbi, kue maksuba dan kue kering masih samar tercium dari dapur. Ucok duduk di kursi tamu, tangan di pangkuan, tas kecil diletakkan di samping. Kiagus duduk di kursi utama, tangan disilang, mata tajam menilai pemuda di depannya. Nyimas berdiri di ambang pintu ruang tamu, tak berani masuk, tapi tak bisa pergi. Hatinya berdegup gila mendengar setiap kata. Tapi kemudian Nyimas pilih untuk mengintip sambil mencuri dengar dari teras depan. Kiagus buka mulut duluan. “Kau datang sendiri. Bagus. Ayah suka laki-laki yang berani. Tapi… apa maksudmu datang hari raya begini?” Ucok tarik napas dalam, tatap Kiagus lurus. “Pak Kiagus… saya Ucok, karyawan baru di GML. Saya datang karena saya serius sama Nyimas, putri Bapak. Saya ingin meminta restu Bapak… untuk menikahinya secara halal.” Alis Kiagus berkerut, “Kau tahu siapa saya? Kau tahu ...

Hari Raya Yang Mendebarkan

Gambar
Beberapa hari berlalu sejak malam Lailatul Qadar. Hari-hari terakhir Ramadan, matahari pagi sudah terik di atas kompleks GML. Mobil dinas SUV dari DLH masuk gerbang pelan. Amir langsung buka palang, senyum lebar. “Langsung ke belakang saja, Bu! Semua sudah nunggu!” Rina dari jendela depan, “Baik, Pak Amir!” Mobil melaju ke area IPAL. Di sana sudah ramai: Soleh, Harahap, Tono, Burhan, Nurdin, mandor utility, karyawan, bahkan puluhan warga desa berdiri mengelilingi kolam pengolahan yang baru. Ucok berdiri di tengah, baju kerja basah keringat, tangan hitam oli. Separator gravitasi buatannya berdengung pelan, air keluar bening mengkilat. Soleh tepuk tangan duluan. “Hari ini monitoring terakhir. Kalau lolos, kita semua bebas.” Andi ambil sampel dari beberapa titik, Rina catat cepat. Nyimas berdiri agak ke belakang, jilbab panjangnya berkibar tertiup angin sawit, mata tak lepas dari Ucok yang sedang jelaskan detail ke Burhan. Hasil lab keluar—di bawah 3 mg/L. Burhan angkat tangan tinggi, sua...

Truly Making Love

Gambar
Senin malam, rumah sewa Nyimas dan Rina di kota Kabupaten Gelumbang. Lampu teras kuning temaram, mobil dinas DLH yang dibawa Andi baru pergi. Nyimas dan Rina memasuki pekarangan, tapi langkah Nyimas terhenti. Di kursi bambu teras, Kiagus duduk sendirian, tangan memegang tas kecil. “Yah…? Assalamualaikum!” Nyimas kaget, suara pelan. "Wa'alaikumsalam," balas Kiagus. Baru Nyimas sadar bahwa mobil ayahnya terparkir di seberang jalan. Rina langsung paham situasi. “Aku masuk dulu yo,” katanya cepat, lalu menghilang ke dalam rumah. Kiagus berdiri, tatapannya tegas tapi ada khawatir di baliknya. “Ayah sudah paham sekarang. Ayah lihat kalian tadi di halaman masjid,” katanya langsung, suara rendah. “Tatapan kalian… Ayah tahu itu bukan tatapan biaso.” Nyimas menunduk, tangan memegang ujung jilbab. “Yah, kami cuma ngobrol bae sebentar…” Kiagus menghela napas panjang. “Ayah idak marah, Nyimas. Ayah cuma khawatir. Kalau pemuda Medan itu serius, suruh dio datang sendiri ke rumah Ayah. B...

Godaan Takjil

Gambar
Sore hari Senin di bulan Ramadan, suasana menjelang Maghrib di rumah panggung Burhan, Desa Suban Baru. Halaman rumah sudah ramai. Tikar-tikar plastik warna-warni digelar di tanah yang baru disiram air supaya sejuk. Meja panjang penuh takjil: kolak pisang, es buah, kurma, gorengan, dan teh manis dalam teko besar. Beberapa bapak-bapak duduk ngobrol santai. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu sibuk antar piring. Bau manis kolak bercampur harum minyak goreng panas. Di sudut halaman, Harahap, Ucok, Tono, Burhan, dan Nurdin duduk lingkaran kecil. Mereka serius membahas sesuatu. Burhan, “Jadi, Cok. Kamu bilang biso perbaiki IPAL permanen tanpa biaya besar?” Ucok angguk pelan, suara tenang. “Iya, Pak. Saya lihat pipa bawah tanahnya banyak belokan tajam. Kalau kita tambah separator gravitasi sederhana dan pompa kecil di titik kritis, limbah minyak bakal tertahan sebelum masuk kolam akhir. Biayanya nggak sampai seratus juta, Pak.” Harahap nepuk pundak Ucok bangga. “Ini anak Medan punya otak cerda...

Cinta di Bulan Suci

Gambar
Sabtu malam di rumah Kiagus, Indralaya. Ruang tamu besar sudah penuh keluarga. Lampu kristal berkilau, meja makan penuh hidangan khas Palembang. Andi berdiri di tengah, lantas membuka kotak cincin beludru hitam, sambil bersimpuh di hadapan Nyimas. Keluarga Andi dan Kiagus duduk tersenyum, menunggu momen itu. Nyimas berdiri di depan Andi, wajah pucat. Ia tatap ayahnya yang angguk penuh harap, lalu Andi yang tersenyum lembut, kemudian pintu kosong tempat Ucok tadi pergi. Magnet dari Medan itu masih berputar kencang di hatinya. Andi buka kotak cincin. “Nyimas... aku sudah lama menunggu momen ini. Aku ingin kita bangun rumah tangga bersama. Maukah kamu menikah denganku?” Semua mata tertuju ke Nyimas. Kiagus tatap tegas, seperti bilang “Ini yang terbaik buat kamu.” Nyimas tarik napas dalam, suara pelan tapi jelas. “Andi... terima kasih atas perasaanmu. Aku menghargai sekali. Tapi... aku butuh waktu untuk pikirkan ini baik-baik. Ini mendadak, dan aku nggak mau buru-buru.” Andi tersenyum paks...

Keputusan Cinta

Gambar
Rabu pagi di Kantor DLH. Nyimas duduk di tempat kerjanya, tapi konsentrasi hilang. Ultimatum ayahnya kemarin masih bergema di kepala. Ia coba fokus pada laporan IPAL, tapi pikiran melayang ke Ucok—magnet dari Medan itu semakin kuat setiap hari. Rabu siang di GML. Ucok dapat tugas baru dari Harahap—cek stok bahan kimia di warehouse. Tapi pikirannya ke pesona Nyimas. Ia mulai tak sabar menunggu inspeksi Selasa depan. Rabu sore, Nyimas pulang ke rumah sewa. Ponsel bergetar—pesan dari ayahnya lagi: “Sabtu ini jangan lupo pulang ke Indralaya. Bawa pemuda Medan itu. Kito bicara serius.” Nyimas kaget. Hati berdegup kencang. Ia kira ini konfrontasi ayah soal kedekatan mereka. Rabu malam, Nyimas curhat ke Rina di kamar. “Rin, Ayah suruh aku bawa Ucok ke rumah Sabtu ini. Pasti gara-gara kedekatan kami. Aku takut.” Rina peluk bahu Nyimas. “Ayahmu khawatir bae. Tapi kalau magnet Ucok lebih kuat, ikuti hati kamu pelan-pelan.” Nyimas diam, mata berkaca. Kamis pagi di Kantor DLH. Nyimas ambil napas d...