Godaan Takjil
Sore hari Senin di bulan Ramadan, suasana menjelang Maghrib di rumah panggung Burhan, Desa Suban Baru. Halaman rumah sudah ramai. Tikar-tikar plastik warna-warni digelar di tanah yang baru disiram air supaya sejuk. Meja panjang penuh takjil: kolak pisang, es buah, kurma, gorengan, dan teh manis dalam teko besar. Beberapa bapak-bapak duduk ngobrol santai. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu sibuk antar piring. Bau manis kolak bercampur harum minyak goreng panas. Di sudut halaman, Harahap, Ucok, Tono, Burhan, dan Nurdin duduk lingkaran kecil. Mereka serius membahas sesuatu. Burhan, “Jadi, Cok. Kamu bilang biso perbaiki IPAL permanen tanpa biaya besar?” Ucok angguk pelan, suara tenang. “Iya, Pak. Saya lihat pipa bawah tanahnya banyak belokan tajam. Kalau kita tambah separator gravitasi sederhana dan pompa kecil di titik kritis, limbah minyak bakal tertahan sebelum masuk kolam akhir. Biayanya nggak sampai seratus juta, Pak.” Harahap nepuk pundak Ucok bangga. “Ini anak Medan punya otak cerda...