Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Godaan Takjil

Gambar
Sore hari Senin di bulan Ramadan, suasana menjelang Maghrib di rumah panggung Burhan, Desa Suban Baru. Halaman rumah sudah ramai. Tikar-tikar plastik warna-warni digelar di tanah yang baru disiram air supaya sejuk. Meja panjang penuh takjil: kolak pisang, es buah, kurma, gorengan, dan teh manis dalam teko besar. Beberapa bapak-bapak duduk ngobrol santai. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu sibuk antar piring. Bau manis kolak bercampur harum minyak goreng panas. Di sudut halaman, Harahap, Ucok, Tono, Burhan, dan Nurdin duduk lingkaran kecil. Mereka serius membahas sesuatu. Burhan, “Jadi, Cok. Kamu bilang biso perbaiki IPAL permanen tanpa biaya besar?” Ucok angguk pelan, suara tenang. “Iya, Pak. Saya lihat pipa bawah tanahnya banyak belokan tajam. Kalau kita tambah separator gravitasi sederhana dan pompa kecil di titik kritis, limbah minyak bakal tertahan sebelum masuk kolam akhir. Biayanya nggak sampai seratus juta, Pak.” Harahap nepuk pundak Ucok bangga. “Ini anak Medan punya otak cerda...

Cinta di Bulan Suci

Gambar
Sabtu malam di rumah Kiagus, Indralaya. Ruang tamu besar sudah penuh keluarga. Lampu kristal berkilau, meja makan penuh hidangan khas Palembang. Andi berdiri di tengah, lantas membuka kotak cincin beludru hitam, sambil bersimpuh di hadapan Nyimas. Keluarga Andi dan Kiagus duduk tersenyum, menunggu momen itu. Nyimas berdiri di depan Andi, wajah pucat. Ia tatap ayahnya yang angguk penuh harap, lalu Andi yang tersenyum lembut, kemudian pintu kosong tempat Ucok tadi pergi. Magnet dari Medan itu masih berputar kencang di hatinya. Andi buka kotak cincin. “Nyimas... aku sudah lama menunggu momen ini. Aku ingin kita bangun rumah tangga bersama. Maukah kamu menikah denganku?” Semua mata tertuju ke Nyimas. Kiagus tatap tegas, seperti bilang “Ini yang terbaik buat kamu.” Nyimas tarik napas dalam, suara pelan tapi jelas. “Andi... terima kasih atas perasaanmu. Aku menghargai sekali. Tapi... aku butuh waktu untuk pikirkan ini baik-baik. Ini mendadak, dan aku nggak mau buru-buru.” Andi tersenyum paks...

Keputusan Cinta

Gambar
Rabu pagi di Kantor DLH. Nyimas duduk di tempat kerjanya, tapi konsentrasi hilang. Ultimatum ayahnya kemarin masih bergema di kepala. Ia coba fokus pada laporan IPAL, tapi pikiran melayang ke Ucok—magnet dari Medan itu semakin kuat setiap hari. Rabu siang di GML. Ucok dapat tugas baru dari Harahap—cek stok bahan kimia di warehouse. Tapi pikirannya ke pesona Nyimas. Ia mulai tak sabar menunggu inspeksi Selasa depan. Rabu sore, Nyimas pulang ke rumah sewa. Ponsel bergetar—pesan dari ayahnya lagi: “Sabtu ini jangan lupo pulang ke Indralaya. Bawa pemuda Medan itu. Kito bicara serius.” Nyimas kaget. Hati berdegup kencang. Ia kira ini konfrontasi ayah soal kedekatan mereka. Rabu malam, Nyimas curhat ke Rina di kamar. “Rin, Ayah suruh aku bawa Ucok ke rumah Sabtu ini. Pasti gara-gara kedekatan kami. Aku takut.” Rina peluk bahu Nyimas. “Ayahmu khawatir bae. Tapi kalau magnet Ucok lebih kuat, ikuti hati kamu pelan-pelan.” Nyimas diam, mata berkaca. Kamis pagi di Kantor DLH. Nyimas ambil napas d...

Konfrontasi Hati

Gambar
Rabu pagi di rumah sewa Nyimas dan Rina. Nyimas susah tidur gara-gara pesan ayahnya semalam. Ia duduk di meja makan, tatap kosong ke secangkir teh panas. Rina keluar dari kamar, masih pakai piyama. “Nyimas, muko pucat nian. Kenapo? Cerito dong.” Nyimas menghela napas. “Ayah semalam kirim pesan, ngomong nak datang ke Gelumbang hari ini. Mau bicara soal kasus GML... dan cowok Medan itu.” Rina mata melebar. “Wah, Ayahmu tahu darimano soal Ucok?” Nyimas geleng. “Dak tau, Rin. Mungkin dari orang dalam.” Rabu pagi di mess GML. Ucok berdiri di depan cermin kecil di kamar, latihan "jaga sikap". “Selamat pagi, Bu Nyimas... Saya dampingi inspeksi hari ini.” Gumamnya sambil senyum paksa. Tono lewat, masih gosok gigi. “Latihan apa kowe iki, Cok? Kayak lagi persiapan kencan. Gak sabar ketemu pesona itu lagi, yo?” Ucok malu. “Bah! Inspeksi Selasa depan, Tono. Aku cuma siap-siap aja.” Rabu siang di Gelumbang. Kiagus turun dari mobil dinas hitam, kumis tebalnya semakin menonjol di bawah mata...

Pesona Medan Magnet

Gambar
Selasa pagi, di rumah sewa Nyimas dan Rina. Nyimas sudah siap berangkat, tas berisi berkas inspeksi di tangan. Rina masih di kamar mandi. Andi sudah menunggu di depan rumah dengan mobil dinas SUV double cabin DLH. Nyimas masuk ke baris depan. Andi langsung buka suara, nada pelan tapi serius. “Nyimas... semalam aku sudah bilang perasaanku. Kamu belum jawab apa-apa.” Nyimas tatap jalan depan, suara datar. “Andi, ini waktu kerjo. Kamu cak anak remaja yang lagi jatuh cinta—dak biso bedake waktu istirahat samo waktu tugas.” Andi diam, tapi wajahnya memerah. Rina masuk mobil dari pintu belakang, bawa termos kopi. “Wah, pagi-pagi sudah berat nih suasananyo?” goda Rina sambil lirik mereka berdua. Nyimas cuma geleng kecil. Kendaraan SUV itu berangkat ke GML. Sementara itu di alun-alun Gelumbang. Kafe kecil yang sama. Pak Edi dan Kiagus duduk berdua, kopi hitam di depan mereka. Edi tersenyum lebar. “Kiagus, cara Nyimas pecahkan demo kemarin itu hebat nian. Win-win solution, warga puas, pabrik se...

Pesona Yang Menggoda

Gambar
Senin sore, di depan gerbang utama PT Gelumbang Minyak Lestari (GML). Situasi sudah di ambang kekacauan. Ratusan warga Desa Suban Baru—dipimpin Burhan dan Nurdin—mendorong-dorong pagar besi yang terkunci rapat. Klakson motor dan teriakan “Segel sekarang!” bergema. Beberapa pemuda sudah pegang kayu dan tali, siap merobohkan kalau perlu. Dari balik pagar, Soleh, Harahap, Ucok, Tono, dan Amir menahan dengan tangan kosong. Beberapa karyawan lain ikut membantu. Soleh berteriak, “Sabar dulu, Pak Burhan! Kita bisa bicara!” Tapi suaranya tenggelam dalam keriuhan. SUV DLH berhenti di depan massa. Andi turun duluan, diikuti Rina. Nyimas keluar terakhir, wajah tegang. Matanya langsung mencari Ucok di balik pagar. Pandangan mereka bertemu sebentar—Ucok tertunduk khawatir, Nyimas menggigit bibir bawahnya. Andi mendekat ke Nyimas. “Nyimas, pasang segel sekarang aja. Warga sudah mendukung.” Rina lirik Nyimas, tatapannya seperti bilang “Kamu yakin mau segel beneran?” Ada jeda sesaat, dimana Nyimas mem...

Magnet Dari Medan

Gambar
Kamis malam, di rumah sewa Nyimas dan Rina yang dikelilingi pagar bambu sederhana. Nyimas duduk di teras, memandang langit gelap berbintang. Pikirannya penuh dengan wajah Ucok yang penuh harap di ruang meeting tadi siang. Telepon berdering—ayahnya, Kiagus, suara berwibawa dengan aksen Palembang tegas. “Nyimas, mak mano kasus GML itu? Jangan biarkan mereka lolos!” Nyimas cerita samar. “Masih proses, Yah. Tapi ado karyawan baru di sano... orangnyo baik, kasihan dio terjebak situasi.” Kiagus langsung curiga, nada naik. “Jangan luluh cuma gara-gara orang pabrik! Ayah sudah capek bangun reputasi keluargo kito. Kamu anak pejabat, harus tegas.” Nyimas gigit bibir, hati terbelah. “Iya, Yah... tapi susah milih antara lingkungan dan manusia.” Usai ditelpon, Nyimas termenung lebih dalam—ada tarikan magnet kuat yang hanya dia rasakan setiap ingat Ucok. Sementara itu di Mess GML, Ucok gelisah di kamar, bolak-balik di tempat tidur besi yang berderit. Tono masuk, baju masih basah keringat. “Cok, piye...