Pesona Medan Magnet
Selasa pagi, di rumah sewa Nyimas dan Rina. Nyimas sudah siap berangkat, tas berisi berkas inspeksi di tangan. Rina masih di kamar mandi.
Andi sudah menunggu di depan rumah dengan mobil dinas SUV double cabin DLH. Nyimas masuk ke baris depan.
Andi langsung buka suara, nada pelan tapi serius. “Nyimas... semalam aku sudah bilang perasaanku. Kamu belum jawab apa-apa.”
Nyimas tatap jalan depan, suara datar. “Andi, ini waktu kerjo. Kamu cak anak remaja yang lagi jatuh cinta—dak biso bedake waktu istirahat samo waktu tugas.”
Andi diam, tapi wajahnya memerah.
Rina masuk mobil dari pintu belakang, bawa termos kopi. “Wah, pagi-pagi sudah berat nih suasananyo?” goda Rina sambil lirik mereka berdua.
Nyimas cuma geleng kecil. Kendaraan SUV itu berangkat ke GML.
Sementara itu di alun-alun Gelumbang. Kafe kecil yang sama. Pak Edi dan Kiagus duduk berdua, kopi hitam di depan mereka.
Edi tersenyum lebar. “Kiagus, cara Nyimas pecahkan demo kemarin itu hebat nian. Win-win solution, warga puas, pabrik selamat. Itu gen Sekda Ogan Ilir nian—diplomasi tinggi.”
Kiagus angguk bangga, tapi alisnya masih berkerut. “Terimo kasih, Edi. Tapi aku khawatir Nyimas terlalu sering bergaul samo orang pabrik. Apolagi karyawan baru dari Medan itu.”
Edi tenangkan. “Santai bae. Inspeksi cuma seminggu sekali, tiap Selaso sesuai kesepakatan. Aku awasi ketat. Nyimas profesional kok.”
Kiagus menghela napas. “Semoga begitu.”
Sementara itu di GML, Ucok sudah di area IPAL sejak subuh, pastikan semuanya rapi. Tono lewat sebentar, goda. “Piye, Cok? Wis siap ketemu pesona itu lagi?”
Ucok cuma senyum gugup.
SUV DLH tiba. Nyimas, Andi, Rina turun. Yang sambut hanya Ucok dan beberapa karyawan lain, termasuk Amir yang nimbrung sesekali. Harahap dan Tono sedang ke Desa Suban Baru—urus kompensasi air bersih dan pengobatan sesuai kesepakatan kemarin.
Ucok dekati Nyimas. “Selamat pagi, Bu. Hari ini saya dampingi langsung.”
Nyimas angguk profesional, tapi dalam hati magnet dari Ucok langsung berputar kencang. Andi di belakang mengerutkan kening.
Tim bagi tugas: Andi dan Rina cek tanki penyimpanan, Ucok dampingi Nyimas ke kolam pengolahan dan pipa baru.
Mereka sering sendirian. Godaan mulai nyata.
Saat cek pipa bawah tanah, Nyimas hampir tergelincir di lumpur. Ucok cepat pegang lengan—sentuhan hangat, keduanya kaget.
“Maaf, Bu...” Ucok buru-buru lepas.
Nyimas tersenyum tipis, pipi merona. “Terima kasih, Pak Ucok.”
Mereka lanjut jalan berdampingan. Ucok tanya ringan. “Bu, sering inspeksi sendirian gini?”
Nyimas jawab pelan. “Biasanya bareng tim. Tapi hari ini... entah kenapa terasa beda.”
Ucok deg-degan karena pesona Nyimas—seragam dinas ketat, rambut ikal bergoyang angin, aroma parfum samar.
Nyimas dalam hati, "Magnet dari Medan ini terlalu dekat... jantungku berdegup gila."
Saat istirahat sebentar di pinggir kolam, Nyimas tanya. “Medan seperti apa, Pak? Pasti beda dengan Kabupaten Gelumbang.”
Ucok cerita singkat tentang danaunya, makanannya, orang-orangnya. Nyimas dengar serius, mata tak lepas dari wajah Ucok.
Andi dari jauh lihat mereka akrab, tangannya mengepal, cemburu.
Lanjut ke makan siang di pantry GML. Andi sengaja pisah, bilang ada telepon. Rina malah makan berdekatan dengan Tono, yang sudah pulang dari desa Suban Baru. Sedangkan Nyimas dan Ucok makan nasi bungkus bareng. Obrolan lebih dalam.
Nyimas: “Bapak tulus sekali bela karyawan kemarin. Nggak semua orang berani bicara di depan manajer.”
Ucok malu. “Saya cuma bilang apa adanya, Bu. Kalau pabrik tutup, saya balik jadi pengangguran lagi.”
Nyimas tatap lembut. “Itu yang bikin... beda.”
Pandang lama lagi. Ucok rasakan pesona Nyimas semakin dalam, Nyimas rasakan magnet Ucok semakin kuat.
Rina nimbrung sebentar, lirik mereka sambil senyum usil.
Selasa sore inspeksi selesai. Nyimas catat kemajuan cukup baik. Andi sikap dingin sepanjang hari, Nyimas sadar tapi pura-pura nggak tahu.
Di gerbang, Ucok dan Tono antar Nyimas ke mobil. “Sampai jumpa Selasa depan, Bu.”
Nyimas angguk, tapi hati gelisah. “Sampai jumpa, Pak Ucok.”
Andi nyetir pulang, suasana di dalam kendaraan hening.
Selasa malam di rumah sewa. Nyimas masuk kamar, langsung duduk di kasur. Rina ikut masuk.
Rina: “Makmano inspeksi hari ini? Kelihatan akrab nian samo Ucok tadi.”
Nyimas tarik napas panjang. “Rin... magnetnyo semakin gila. Hari ini bareng dio, aku susah fokus. Tapi Andi tadi dingin nian seharian.”
Rina peluk bahu Nyimas. “Kamu sudah mulai jatuh hati sama Ucok, kan? Andi terlambat.”
Nyimas diam, mata berkaca. “Aku idak tahu harus makmano.”
Sementara itu di mess GML, Ucok duduk sendirian di teras, tatap langit.
Tono lewat. “Besok Rabu libur inspeksi, Cok. Tapi Selasa depan ketemu lagi?”
Ucok senyum dalam hati—pesona Nyimas yang sulit dilupakan bakal kembali minggu depan, dan entah kenapa rasanya semakin dekat.
Kembali ke rumah sewa. Nyimas terima pesan dari ayahnya malam itu: “Besok Ayah ke Gelumbang. Kito diskusi soal kasus GML... dan orang Medan itu.”
Nyimas kaget. Darimana Ayah sampai tahu tentang Ucok?
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL CERITA: GODAAN MAKING LOVE
JUDUL EPISODE 5: PESONA MEDAN MAGNET
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar